Bisnis / Energi
Minggu, 19 Juli 2026 | 20:40 WIB
Ledakan di pelabuhan Dayyer, Bushehr [Ist/AryJeay]
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat meluncurkan serangan militer ke Iran sejak Sabtu setelah insiden tewasnya dua personel militer di Yordania.
  • Konflik dipicu kegagalan gencatan senjata dan perebutan kendali Selat Hormuz yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
  • Iran membalas serangan dengan drone ke pangkalan AS di Kuwait serta memicu lonjakan harga minyak mentah global.

Merespon gelombang serangan tersebut, Iran tidak tinggal diam. Stasiun TV milik pemerintah Iran pada Minggu pagi melaporkan pengerahan serangan pesawat tak berawak (drone) yang menargetkan aset dan peralatan militer AS di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.

Kedua pangkalan tersebut telah menjadi sasaran empuk rentetan serangan Iran terhadap aset AS dan sekutunya di kawasan Teluk sejak pekan lalu.

Laporan dari berbagai pihak turut mengonfirmasi meluasnya jangkauan proyektil:

  • Yordania: Sirine peringatan bahaya berbunyi setelah militer Israel mendeteksi peluncuran rudal dari Iran yang mengarah ke kota Aqaba, Yordania.
  • Bahrain: Stasiun TV pemerintah Bahrain melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan dari arah Iran pada hari Minggu.
  • Wilayah Iran: Laporan lokal menyebut AS telah melancarkan serangan di dekat wilayah Sirik (Iran Selatan) dan Shadegan (dekat perbatasan Irak). Organisasi Energi Atom Iran juga mengecam keras serangan terhadap situs pembangkit listrik tenaga nuklir yang tengah dibangun di wilayah Darkhovin.

Krisis Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak

Konflik ini juga merembet ke sektor lalu lintas pelayaran internasional. AS mengklaim tengah memberlakukan blokade laut terhadap Iran. Sebaliknya, Teheran menegaskan akan menargetkan kapal mana pun yang melanggar aturan navigasinya di Selat Hormuz.

Pada hari Minggu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melaporkan adanya empat kapal berafiliasi dengan AS yang mencoba melintasi selat tersebut melalui rute tidak aman dengan mengabaikan peringatan IRGC. Dilaporkan bahwa dua kapal akhirnya membatalkan pelayaran, sementara dua lainnya terlibat dalam "kecelakaan", tanpa adanya rincian lebih lanjut.

Kekacauan yang berpotensi memicu gangguan pasokan energi dan inflasi global ini langsung memberikan respons kejut pada pasar komoditas. Harga minyak dunia terpantau meroket tajam pada penutupan perdagangan terbaru:

Minyak Mentah (Crude Oil): Mengalami kenaikan sebesar 3,54% ke level USD 82.490 per barel.

Minyak Brent: Melonjak sebesar 3,87% hingga menyentuh level USD 88.100 per barel.

Baca Juga: CENTCOM: 50 Ribu Pasukan Amerika Serikat Siaga Serang Iran

Load More