Bisnis / Keuangan
Senin, 20 Juli 2026 | 12:38 WIB
Proyek LNG Abadi Blok Masela. [INPEX]
Baca 10 detik
  • DPR optimistis PHE mampu maksimalkan potensi Blok Masela.
  • Investasi Rp352 triliun diproyeksi dorong ekonomi dan ketahanan energi.
  • Blok Masela berpotensi sumbang USD37,8 miliar bagi penerimaan negara.

Suara.com - Keterlibatan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kontribusi sektor migas terhadap perekonomian nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono Hutomo, optimistis Pertamina melalui Subholding Upstream PHE mampu memainkan peran strategis dalam pengelolaan proyek gas alam cair (LNG) raksasa tersebut setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek di Tanimbar, Maluku, pekan lalu.

Menurut Sartono, pengalaman PHE dalam mengelola berbagai proyek hulu migas nasional menjadi modal kuat untuk memastikan pengembangan Blok Masela berjalan sesuai target sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.

"PHE berpotensi memberi kontribusi besar karena memiliki pengalaman mengelola proyek hulu migas nasional," ujar Sartono.

Blok Masela sendiri akhirnya memasuki tahap pembangunan setelah sempat tertunda selama hampir tiga dekade sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998. Masuknya PHE sebagai pemegang hak partisipasi sebesar 20 persen pada 2023 menjadi salah satu faktor yang mendorong pemerintah menyetujui revisi Plan of Development (POD) pada November 2023.

Sartono menegaskan, kepemilikan saham Pertamina di proyek tersebut harus mampu menghasilkan nilai tambah nyata, bukan sekadar menjadi investor.

Ia menilai pada tahap konstruksi, PHE dapat memperbesar kontribusinya melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), memperluas keterlibatan industri nasional, mempercepat transfer teknologi, hingga menjaga efisiensi biaya proyek yang memiliki nilai investasi mencapai USD20,94 miliar atau sekitar Rp352 triliun.

Selain itu, ia berharap PHE mampu mengoptimalkan kompetensi sumber daya manusia dalam pengelolaan aspek teknis, lingkungan, hingga komersial agar proyek LNG kelas dunia tersebut tetap kompetitif.

Namun demikian, Sartono mengingatkan bahwa Blok Masela memiliki tantangan besar karena harus memenuhi standar Environmental, Social and Governance (ESG) sekaligus bersaing di pasar LNG global.

Baca Juga: Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?

"Penguatan kolaborasi teknologi dan tata kelola menjadi kunci agar proyek tetap berkelanjutan dan kompetitif," tegasnya.

Dengan cadangan gas mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) dan kapasitas produksi LNG sekitar 9,5 juta ton per tahun, Sartono berharap Blok Masela mampu memperkuat pasokan energi nasional, meningkatkan penerimaan negara, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Indonesia Timur.

Ia menekankan keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari besarnya investasi maupun peningkatan ekspor LNG, tetapi juga dari manfaat langsung bagi masyarakat melalui penyediaan gas untuk industri dan pembangkit listrik di dalam negeri.

Senada, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menilai keterlibatan PHE memberikan keuntungan ganda bagi Indonesia. Selain meningkatkan produksi migas nasional, kepemilikan saham Pertamina juga membuat negara memperoleh manfaat dari skema bagi hasil sekaligus dividen yang berasal dari perusahaan pelat merah tersebut.

"Jadi positif banget ini. Kita berharap proyek ini bisa berjalan lancar setelah sempat tertunda sangat lama," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Proyek LNG Abadi Masela diproyeksikan memberikan penerimaan langsung kepada negara hingga USD37,8 miliar, ditambah potensi penerimaan pajak tidak langsung sekitar USD6,43 miliar sepanjang masa operasi proyek.

Dengan nilai investasi sekitar USD20,9 miliar, Blok Masela menjadi salah satu proyek migas terbesar di Indonesia yang diharapkan menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen LNG dunia.

Load More