-
Konflik militer Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak Brent melewati 90 dolar AS.
-
Serangan udara sembilan malam berturut-turut mengancam stabilitas jalur distribusi minyak Selat Hormuz.
-
Penipisan cadangan minyak global diprediksi memberikan tekanan politik baru bagi Presiden Donald Trump.
Suara.com - Harga minyak dunia langsung melesat tajam pada perdagangan Senin hari ini menyusul eskalasi militer terbaru. Perang Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran besar atas keamanan jalur distribusi energi utama.
Pasar energi internasional kini bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan yang melewati Selat Hormuz. Jalur maritim ini merupakan urat nadi transportasi minyak mentah paling krusial di dunia.
Kenaikan harga ini dipicu oleh akumulasi serangan udara berturut-turut dan jatuhnya korban jiwa di pihak militer. Risiko geopolitik yang meningkat di Timur Tengah langsung direspons negatif oleh pelaku pasar global.
Patokan internasional minyak mentah Brent untuk pengiriman September melonjak sekitar 2,77 persen hingga melewati angka 90 dolar AS per barel. Dikutip dari CNBC Internasional, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Agustus merangkak naik 2,4 persen menuju posisi 84,49 dolar AS.
Lonjakan ini terjadi setelah pihak militer Amerika Serikat memastikan kematian personel ketiganya dalam operasi teranyar. Selain itu, tim penyelidik menemukan sisa jenazah yang belum teridentifikasi di lokasi serangan Yordania.
Insiden berdarah di Yordania tersebut sebelumnya telah menewaskan dua tentara Amerika Serikat dan menyebabkan satu orang hilang. Pihak Pentagon langsung mengambil langkah responsif atas hilangnya nyawa para prajurit mereka.
Pasukan Amerika Serikat kini telah melancarkan serangan udara selama sembilan malam berturut-turut ke wilayah sasaran Iran. Aksi pengeboman ini menargetkan infrastruktur strategis yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.
Komando Pusat AS (Centcom) menegaskan komitmennya untuk membatasi ruang gerak kekuatan militer lawan di koridor laut tersebut. Mereka membidik fasilitas vital yang kerap digunakan untuk mengganggu pelayaran komersial.
“Serangan akan terus menurunkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal komersial dan pelaut sipil yang transit di Selat Hormuz,” tulis pernyataan resmi U.S. Central Command melalui media sosial X.
Baca Juga: AS dan Iran Saling Gempur 8 Malam Berturut-turut, Harga Minyak Melonjak Tajam!
Operasi udara Centcom menyasar sistem pengawasan pantai, pertahanan udara, serta aset maritim lawan. Fasilitas penyimpanan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) juga tidak luput dari kehancuran.
Selain itu, pasukan Amerika Serikat menggempur unit Korps Garda Revolusi Islam yang terindikasi kuat terlibat langsung. Unit tersebut diduga menjadi otak di balik serangan terhadap personel militer AS di Yordania pada 17 Juli lalu.
Analis pasar melihat situasi ini sebagai ancaman nyata bagi ketersediaan bahan bakar dunia dalam jangka pendek. Penurunan volume ekspor dari kawasan Teluk membuat pasar minyak mentah internasional menjadi jauh lebih ketat.
Pakar strategi ekonomi memperingatkan bahwa penurunan cadangan minyak terancam mencapai tingkat kritis pada akhir kuartal ketiga. Tekanan politik domestik diprediksi akan berbalik arah menuju kepemimpinan nasional di Gedung Putih.
“Pada tingkat penipisan seperti ini, inventaris minyak menjadi ketat pada bulan September dan bahkan AS menjadi stres. Hal itu akan meningkatkan tekanan TACO pada Presiden Trump. Tetap ambil posisi long pada Brent dengan target 95 hingga 105 dolar AS per barel,” kata David Roche dari Quantum Strategy dalam catatan resminya pada hari Senin.
Ketegangan di Timur Tengah kembali membara setelah serangkaian serangan saling balas antara pasukan AS dan kelompok afiliasi Iran. Selat Hormuz menjadi titik paling rawan karena posisinya sebagai jalur perlintasan bagi seperlima konsumsi minyak dunia.
Keamanan navigasi komersial di selat tersebut kini berada pada titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Konflik terbuka ini dikhawatirkan mengganggu pemulihan ekonomi global akibat lonjakan inflasi sektor energi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
-
Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI
-
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK
-
Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029
-
Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia
-
Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?
-
Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati
-
Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret
-
Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus