- BPDP menetapkan industri sawit sebagai instrumen strategis nasional yang menyokong penghidupan 16 juta rakyat menuju Indonesia Emas 2045.
- BPDP mendorong peningkatan produktivitas petani melalui inovasi teknologi dan digitalisasi tanpa harus melakukan perluasan areal lahan tanam baru.
- Melalui ajang PERISAI 2026 di Jakarta, BPDP berkomitmen mengakselerasi hilirisasi produk sawit menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Suara.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan sektor kelapa sawit bukan lagi sekadar komoditas ekspor andalan. Lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu menyebut industri sawit telah bertransformasi menjadi instrumen strategis pembangunan nasional.
Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman mengungkapkan kalau saat ini industri sawit tercatat menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 16 juta rakyat Indonesia yang terlibat di sepanjang rantai nilai industri tersebut.
Menurut Dirut BPDP, posisi strategis ini membuat masa depan sawit sangat krusial bagi perekonomian bangsa, terutama dalam mendukung agenda Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.
Eddy memaparkan bahwa dari total luasan perkebunan sawit di Indonesia, sekitar 41 persen di antaranya dikelola langsung oleh petani atau pekebun rakyat. Oleh karena itu, keberlanjutan industri ini sangat bergantung pada kesejahteraan para petani tersebut.
"Masa depan industri sawit sesungguhnya sangat ditentukan oleh masa depan para petani atau pekebun tersebut. Ke depan, keberhasilan industri sawit Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan yang kita miliki, melainkan kemampuan kita untuk meningkatkan produktivitas," ujar Eddy dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (20/7/2026).
BPDP mendorong peningkatan hasil panen rakyat melalui digitalisasi dan inovasi tanpa harus memperluas areal tanam. Beberapa langkah strategis yang didorong meliputi penggunaan benih unggul dan teknologi budidaya, penerapan precision agriculture dan digital farming, hingga pemupukan yang efisien serta pengendalian hama ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa untuk menjaga penghidupan 16 juta warga tersebut, Indonesia harus bertransformasi dari sekadar produsen mentah menjadi pusat inovasi.
Ia menilai, hilirisasi sawit tidak boleh berhenti hanya pada produk biodiesel, melainkan harus merambah ke produk bioekonomi bernilai tambah tinggi lainnya.
Potensi pengembangan hilirisasi sawit yang masih terbuka luas seperti di sektor Pangan & Kesehatan yang meliputi pangan berbasis sawit, kosmetik, dan farmasi.
Baca Juga: Produksi Sawit RI Melonjak, Pemerintah Kejar Target B60 di 2028
Lalu ada sektor industri & manufaktur seperti oleokimia, biomaterial, bioplastik, surfaktan, dan pelumas ramah lingkungan. Ada pula sektor Energi Terbarukan mencakup bioavtur dan bahan bakar nabati tingkat lanjut.
"Setiap inovasi akan melahirkan produk baru, setiap produk baru akan membuka industri baru, dan setiap industri baru akan menciptakan investasi, lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi," tambahnya.
Lewat gelaran PERISAI 2026, BPDPKS berkomitmen untuk beralih fungsi bukan hanya sebagai penyedia dana riset, melainkan sebagai katalisator yang mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan petani agar hasil riset dapat langsung diterapkan dan memberikan dampak ekonomi yang nyata.
Berita Terkait
-
Produksi Sawit RI Melonjak, Pemerintah Kejar Target B60 di 2028
-
Kemenkeu Ungkap Pemerintah Alokasikan Rp 12 Triliun dari APBN 2026 untuk Riset
-
Helmy Yahya Tawarkan Rebana ke Investor Malaysia, Lahan Industri 43 Ribu Hektare Masih Longgar
-
Kemenkeu Raih Opini WTP 15 Kali Beruntun dari BPK
-
Mesin Ekspor RI Kehilangan Tenaga! Sawit dan Baja Melemah Jadi Alarm Bahaya
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Likuiditas Bank Aman, OJK Akui Pembiayaan UMKM Masih Jadi Pekerjaan Rumah
-
IHSG Terancam Gagal Menembus Resistance di Tengah Kenaikan Harga Minyak
-
Wanti-wanti Menko Yusril soal Kasus Febrie: Jangan Terjadi Penyimpangan, Bisa Diambil Alih KPK
-
Argentina Runner Up Piala Dunia 2026, Lionel Messi: Rasa Sakitnya Sesakit Itu!
-
Skip Jakarta! Young K Day6 Umumkan Jadwal Tur Konser Solo Bertajuk Youngest
-
6 Cara Memakai Parfum Lokal agar Wanginya Tahan Lama dan Meninggalkan Jejak
-
Keuangan Makin Bersinar, 5 Shio Ini Diprediksi Penuh Keberuntungan 21 Juli 2026
-
Aturan Hak-hak Ojol Tak Masuk RUU LLAJ, DPR Janjikan Bakal Punya UU Sendiri
-
Profil Pau Cubarsi, Bek Spanyol yang Raih Penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026
-
Lepas Status WNI Biayanya Naik 5 Kali Lipat, Menteri Supratman: Bukan Masalah Buat Bangsa