Bisnis / Makro
Senin, 20 Juli 2026 | 15:20 WIB
Dirut BPDP Eddy Abdurrachman dalam konferensi pers Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Senin (20/7/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • BPDP menetapkan industri sawit sebagai instrumen strategis nasional yang menyokong penghidupan 16 juta rakyat menuju Indonesia Emas 2045.
  • BPDP mendorong peningkatan produktivitas petani melalui inovasi teknologi dan digitalisasi tanpa harus melakukan perluasan areal lahan tanam baru.
  • Melalui ajang PERISAI 2026 di Jakarta, BPDP berkomitmen mengakselerasi hilirisasi produk sawit menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Suara.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan sektor kelapa sawit bukan lagi sekadar komoditas ekspor andalan. Lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu menyebut industri sawit telah bertransformasi menjadi instrumen strategis pembangunan nasional. 

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman mengungkapkan kalau saat ini industri sawit tercatat menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 16 juta rakyat Indonesia yang terlibat di sepanjang rantai nilai industri tersebut.

Menurut Dirut BPDP, posisi strategis ini membuat masa depan sawit sangat krusial bagi perekonomian bangsa, terutama dalam mendukung agenda Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

Eddy memaparkan bahwa dari total luasan perkebunan sawit di Indonesia, sekitar 41 persen di antaranya dikelola langsung oleh petani atau pekebun rakyat. Oleh karena itu, keberlanjutan industri ini sangat bergantung pada kesejahteraan para petani tersebut.

"Masa depan industri sawit sesungguhnya sangat ditentukan oleh masa depan para petani atau pekebun tersebut. Ke depan, keberhasilan industri sawit Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan yang kita miliki, melainkan kemampuan kita untuk meningkatkan produktivitas," ujar Eddy dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (20/7/2026).

BPDP mendorong peningkatan hasil panen rakyat melalui digitalisasi dan inovasi tanpa harus memperluas areal tanam. Beberapa langkah strategis yang didorong meliputi penggunaan benih unggul dan teknologi budidaya, penerapan precision agriculture dan digital farming, hingga pemupukan yang efisien serta pengendalian hama ramah lingkungan.

Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit (Pexels/Pok Rie)

Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa untuk menjaga penghidupan 16 juta warga tersebut, Indonesia harus bertransformasi dari sekadar produsen mentah menjadi pusat inovasi. 

Ia menilai, hilirisasi sawit tidak boleh berhenti hanya pada produk biodiesel, melainkan harus merambah ke produk bioekonomi bernilai tambah tinggi lainnya.

Potensi pengembangan hilirisasi sawit yang masih terbuka luas seperti di sektor Pangan & Kesehatan yang meliputi pangan berbasis sawit, kosmetik, dan farmasi.

Baca Juga: Produksi Sawit RI Melonjak, Pemerintah Kejar Target B60 di 2028

Lalu ada sektor industri & manufaktur seperti oleokimia, biomaterial, bioplastik, surfaktan, dan pelumas ramah lingkungan. Ada pula sektor Energi Terbarukan mencakup bioavtur dan bahan bakar nabati tingkat lanjut.

"Setiap inovasi akan melahirkan produk baru, setiap produk baru akan membuka industri baru, dan setiap industri baru akan menciptakan investasi, lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi," tambahnya.

Lewat gelaran PERISAI 2026, BPDPKS berkomitmen untuk beralih fungsi bukan hanya sebagai penyedia dana riset, melainkan sebagai katalisator yang mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan petani agar hasil riset dapat langsung diterapkan dan memberikan dampak ekonomi yang nyata.

Load More