- Kenaikan harga BBM nonsubsidi sejak Juni 2026 memicu peralihan masyarakat ke Pertalite dan memicu antrean panjang di SPBU.
- Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan pemerintah akan segera mengatur ulang kuota distribusi BBM bersubsidi.
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengupayakan penurunan harga BBM nonsubsidi akibat tren penurunan harga minyak mentah dunia.
Suara.com - Melonjaknya harga BBM non subsidi seperti Pertamax series sejak 10 Juni lalu, membuat masyarakat banyak beralih ke BBM bersubsidi seperti Pertalite. Perubahan pola konsumsi belakangan mengakibatkan antrean panjang di SPBU di sejumlah wilayah.
Guna mengatasi persoalan tersebut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menyebut pemerintah akan mengatur tata kelolanya, khususnya kuota Pertalite.
"Nah itu sedang di-manage ya. Kan kemarin juga salah satunya kita sedang menuntaskan masalah BBM di Sumatera Utara," kata Laode saat ditemui wartawan di Jakarta yang dikutip pada Rabu (22/7/2026).
Berdasarkan data yang dipaparkan PPN, penyaluran harian Pertalite melonjak 9,4 persen atau naik 7.129 kiloliter (KL)/hari, sedangkan konsumsi Pertamax Series justru anjlok hingga 18 persen atau 4.476 KL/hari.
Hal yang sama juga terjadi pada Biosolar. Porsi konsumsi Biosolar bersubsidi naik dari 93 persen pada periode Januari–Mei 2026 menjadi 94,2 persen pada Juli, sementara proporsi Dexlite (BBM non subsidi) turun dari 4,1 persen menjadi 3,5 persen.
Adapun lonjakan konsumsi BBM bersubsidi terjadi sejak harga BBM non subsidi melonjak. Terdapat perbedaan harga yang signifikan, dengan harga Pertamax mulai dari Rp 16.250 per liter, sementara Pertalite masih di harga Rp 10.000 per liter.
Terbaru, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengisyaratkan adanya peluang penurunan harga BBM non subsidi. Disebutnya penyesuaian dilakukan menyusul tren penurunan harga minyak mentah dunia. Ia mengaku tengah berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero), dan perusahaan SPBU swasta.
"Kami sudah mulai meminta kepada badan usaha swasta, termasuk Pertamina, untuk segera melakukan penyesuaian ketika harga minyak dunia turun," ujar Bahlil kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta pada Senin (20/7/2026) malam.
Baca Juga: Tepis Isu Dibawa ke Jawa, ESDM Tegaskan Gas Blok Andaman Prioritas untuk Aceh
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
WeTV Indonesia Hadirkan Serial 12 IPA 4, Drama Remaja yang Penuh Konflik dan Harapan
-
Cara Cek dan Sanggah Data Desil Lewat HP, Segera Update Sebelum Agustus 2026!
-
Beli Pertalite Tak Lagi Bebas, Bakal Ada Aturan Baru
-
Gus Ipul Beri Apresiasi atas Komitmen Pemkab Bandung Dukung Sekolah Rakyat
-
Bukan Cuma Ganti Figur, DPR Desak Kepala BGN Baru Pengganti Nanik Deyang Berani Desain Ulang MBG
-
PAM Jaya Ungkap Biang Kerok Kebocoran Berulang di TB Simatupang, Pipa Sudah Berusia 30 Tahun
-
Santunan Korban Motor Tembus Rp1,79 T, Penguatan Standar Keselamatan Dinilai Mendesak
-
9 Rekomendasi Parfum untuk Kulit Sensitif dan Sudah Terdaftar BPOM
-
Sampah Jakarta Capai 7.354 Ton per Hari, Bisakah Pengelolaan dari Rumah Jadi Solusi?
-
JPMorgan Resmi Naikkan Rating BBRI ke Overweight, Simak Alasannya