Bisnis / Energi
Rabu, 22 Juli 2026 | 19:17 WIB
Dirjen Migas ESDM, Laode Sulaeman di Jakarta, Rabu (22/7/2026) mengakui rencana pembangunan storage minyak belum ada perkembangan. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]
Baca 10 detik
  • Kementerian ESDM di Jakarta menyatakan proyek pembangunan fasilitas penyimpanan minyak nasional belum memiliki tindak lanjut.
  • Dirjen Migas Laode Sulaeman menyampaikan bahwa kendala utama proyek ini adalah belum adanya investor yang serius.
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggagas proyek di Sumatera ini untuk memperpanjang cadangan minyak nasional menjadi tiga bulan.

Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui belum ada tindak lanjut terkait rencana pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak nasional. Padahal, proyek tersebut awalnya digagas guna memperkuat kapasitas cadangan energi nasional.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengklaim tidak terdapat tantangan dalam proyek tersebut. Namun, menurutnya belum terdapat investor yang serius untuk menggarapnya.

"Sebenarnya enggak ada tantangan. Cuman memang belum ada yang benar-benar serius ingin melakukan itu dalam waktu cepat," ujar Laode saat ditemui wartawan di Jakarta yang dikutip pada Rabu (22/7/2026).

Ia menuturkan, sebelumnya terdapat investor asal India yang berencana bekerja sama memperkuat kapasitas cadangan Pertamina sekaligus membangun fasilitas penyimpanannya. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya.

"Itu waktu itu. Tapi sekarang kan, seperti saya bilang tadi, belum ada pembahasan lagi lebih lanjut," kata Laode.

Rencana pembangunan storage minyak nasional pertama kali diungkapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada awal Maret lalu. Proyek itu digagas untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak nasional yang dinilai masih terbatas.

Saat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran memuncak akhir Februari lalu, stok cadangan minyak Indonesia tercatat hanya bertahan untuk 25 hingga 26 hari. Melalui proyek ini, pemerintah menargetkan kapasitas daya simpan dapat melonjak hingga tiga bulan guna memenuhi standar internasional.

Berdasarkan perencanaan awal, fasilitas penyimpanan tersebut bakal dibangun di Sumatera. Kala itu, Bahlil bahkan mengklaim sudah ada investor yang berminat menggarap proyek strategis tersebut.

Baca Juga: Batu Bara Masih Perkasa, Devisa Ekspor Semester I Tembus Rp268 Triliun

Load More