Bisnis / Keuangan
Senin, 27 Juli 2026 | 10:45 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo [ist]
Baca 10 detik
  • Perry Warjiyo memutuskan mundur dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, yang diumumkan di Jakarta pada Senin, 27 Juli 2026.
  • Pengamat pasar modal Hendra Wardana menyatakan pengunduran diri tersebut berpotensi memicu sentimen negatif serta capital outflow jangka pendek di pasar saham.
  • Penurunan harga minyak mentah Brent ke kisaran 87 dolar AS per barel dinilai mampu meredakan tekanan inflasi global dan membatasi pelemahan IHSG.

Suara.com - Sektor keuangan kini tengah digemparkan berita yang begitu mendadak, pasalnya Perry Warjiyo memutuskan untuk mundur dari jabatan Gubernur Bank Indonesia.

Pengumuman ini bisa membuat pasar bergejolak, terutama pada pasar saham. Bahkan, Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai keputusan itu akan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.

Bukan karena kondisi fundamental ekonomi berubah secara mendadak, melainkan karena investor cenderung menghindari ketidakpastian, terutama ketika terjadi pergantian kepemimpinan di bank sentral yang memegang peran penting dalam menjaga stabilitas moneter.

"Pasar saham sangat sensitif terhadap kepastian arah kebijakan Bank Indonesia. Ketika muncul perubahan di pucuk pimpinan bank sentral, investor asing biasanya akan mengambil posisi wait and see terlebih dahulu. Dalam jangka pendek kondisi ini berpotensi memicu capital outflow, terutama jika muncul keraguan terhadap independensi maupun konsistensi kebijakan moneter," ujarnya di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]

Menurutnya, Bank Indonesia memiliki peran strategis dalam menentukan suku bunga acuan, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, hingga memastikan stabilitas sistem keuangan. Karena itu, setiap perubahan kepemimpinan akan menjadi perhatian investor, khususnya pelaku pasar global.

Meski demikian, Hendra menilai tekanan terhadap IHSG berpotensi hanya berlangsung dalam jangka pendek. Pasalnya, Destry Damayanti merupakan bagian dari Dewan Gubernur Bank Indonesia yang selama ini ikut merumuskan berbagai kebijakan moneter sehingga peluang perubahan arah kebijakan secara drastis relatif kecil.

"Selama proses transisi berjalan baik dan kebijakan moneter tetap konsisten, tekanan terhadap pasar saham seharusnya hanya bersifat sementara. Investor akan lebih melihat apakah kredibilitas dan independensi Bank Indonesia tetap terjaga dibanding sekadar siapa yang menduduki kursi Gubernur BI," kata Hendra.

Ia menambahkan, stabilnya nilai tukar rupiah setelah pengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo menunjukkan pelaku pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap perkembangan tersebut. Hal itu mengindikasikan investor masih menunggu arah kebijakan berikutnya dari bank sentral.

Selain itu, terdapat faktor eksternal yang berpotensi membantu membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi ke kisaran 87 dolara per barel.

Baca Juga: IHSG Bergerak Dua Arah Pagi Ini, Saham RANS Merah

Penurunan harga energi dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi global, meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga, serta memberikan sentimen positif bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Untuk perdagangan hari ini, Hendra memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak dalam tren melemah dengan area support di level 6.060 dan resistance di level 6.300. Selama indeks mampu bertahan di atas level support tersebut, pelemahan diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar.

Namun apabila tekanan jual meningkat disertai arus keluar dana asing yang lebih besar, peluang penurunan yang lebih dalam akan semakin terbuka.

Load More