Bisnis / Keuangan
Senin, 27 Juli 2026 | 17:19 WIB
Ilustrasi fondasi ketahanan pangan nasional dari lahan rawa. [Ist]
Baca 10 detik
  • PT Hexindo Adiperkasa Tbk menyatakan sektor agro menjadi kontributor penjualan terbesar berkat program ketahanan pangan pemerintah.
  • Presiden Direktur HEXA Dwi Swasono menyampaikan penjualan alat berat perusahaan pada kuartal pertama tahun ini meningkat sekitar 10 persen.
  • Perusahaan menargetkan penjualan minimal 3.000 unit ekskavator sepanjang tahun fiskal dari April 2026 hingga Maret 2027.

Suara.com - Emiten distributor alat berat, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) mengakui kecipratan cuan dari program pemerintah dari Program ketahanan pangan. Hal ini sering meningkatnya pembukaan lahan pertanian, pembangunan irigasi, hingga perkebunan, kebutuhan alat berat dari sektor agro terus mengalami peningkatan.

Presiden Direktur HEXA, Dwi Swasono, mengatakan sektor agro saat ini menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan alat berat perusahaan, mengungguli sektor konstruksi, kehutanan (forestry), hingga pertambangan.

"Nomor satu agro. Nomor dua adalah konstruksi. Nomor tiga forestry. Nomor empat mining," ujarnya di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Menurut dia, proyek-proyek ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah memberikan dampak positif terhadap permintaan alat berat karena membutuhkan banyak pekerjaan pembukaan lahan.

Presiden Direktur PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA), Dwi Swasono.

"Jadi kita bicara food estate kan. Food estate kan macam-macam. Ada cetak sawah, ada sugarcane, ada sawit juga. Itu sangat signifikan membutuhkan alat berat. Tinggal periode kontrak dari masing-masing project kan berbeda," ujarnya.

Dwi menjelaskan, untuk proyek jangka panjang umumnya pelaku usaha memilih melakukan investasi pembelian alat berat. Sementara proyek berdurasi pendek lebih banyak memanfaatkan skema penyewaan (rental).

Ia mengungkapkan, dominasi sektor agro juga tercermin dari komposisi penjualan perusahaan. Sekitar 37 persen penjualan Hexindo berasal dari sektor agro, disusul konstruksi sebesar 29 persen, sementara sisanya berasal dari sektor kehutanan dan pertambangan.

Selain ditopang sektor agro, permintaan alat berat juga mulai meningkat dari sektor pertambangan setelah adanya penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

"Kondisi pasar itu masih benar-benar membutuhkan kehadiran alat berat untuk kontinuitas pembangunan. Baik di sektor konstruksi, forestry, plantation maupun tambang itu sendiri. Karena tambang sekarang sudah mulai menggeliat. Dengan penyesuaian RKB, permintaan alat juga sudah mulai," kata Dwi.

Baca Juga: Tak Hanya Genjot Bisnis, Emiten LINK Perkuat Strategi ESG

Sejalan dengan membaiknya permintaan, penjualan alat berat perusahaan pada awal tahun fiskal juga menunjukkan pertumbuhan.

"Kalau dibandingkan dengan semester atau mungkin kuartal pertama di tahun ini? Peningkatan. Peningkatan kira-kira sekitar 10 persen," ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Hexindo menargetkan mampu menjual sedikitnya 3.000 unit ekskavator sepanjang tahun fiskal yang berlangsung mulai April 2026 hingga Maret 2027. Sementara untuk produk wheel loader dan bulldozer, perusahaan menargetkan penjualan mencapai ratusan unit karena masih berada pada tahap awal pengembangan pasar.

Dalam kesempatan ini, HEXA memamerkan alat berat baru WIXIM Supported by LANDCROS yang bisa digunakan untuk berbagai sektor, mulai dari konstruksi, pertambangan, perkebunan, kehutanan, hingga industri strategis lainnya.

Pada tahap awal peluncurannya, Hexindo memperkenalkan empat model WIXIM Supported by LANDCROS yang terbagi dalam dua kategori. Untuk kategori Wheel Loader, perusahaan menghadirkan model WZW140B-G dan WZW220B-G. Sementara itu, pada kategori Bulldozer, tersedia model WZD170B-G dan WZD250B-F.

Load More