Bisnis / Keuangan
Rabu, 29 Juli 2026 | 08:35 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). [Ist]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi pada Rabu (29/7/2026).
  • Erwin Gunawan Hutapea menyatakan BI mengoptimalkan triple intervention dan SRBI untuk menarik aliran modal asing ke dalam negeri.
  • BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial dan digitalisasi sistem pembayaran demi mendorong pertumbuhan ekonomi sektor prioritas.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) menrkan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan bauran kebijakan moneter di tengah tingginya ketidakpastian global.

Fokus utama kebijakan tersebut adalah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sebagai prasyarat untuk menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan BI akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.

"Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," katanya.

Erwin menjelaskan, BI tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Berbagai instrumen moneter juga terus dioptimalkan untuk menjaga keseimbangan pasar keuangan sekaligus menarik aliran modal asing ke dalam negeri.

Ia mengungkapkan, optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam.

"Berbagai instrumen, termasuk triple intervention di pasar valuta asing melalui pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing," jelasnya.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga memperkuat strategi pengelolaan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.

Baca Juga: Bos BCA Titip Pesan Buat Calon Gubernur Bank Indonesia Baru, Apa Isinya?

BI menilai posisi SRBI saat ini berada dalam tren yang semakin terkendali sehingga penerbitannya ke depan akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas nasional.

"Strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan diperkuat. Posisi SRBI berada dalam tren yang lebih terkendali. Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," kata Erwin.

Di sisi lain, BI juga memastikan berbagai instrumen kebijakan tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna meningkatkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.

Erwin menegaskan, penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan akan terus dilakukan agar transmisi pembiayaan kepada dunia usaha menjadi lebih efektif. Bersamaan dengan itu, digitalisasi sistem pembayaran juga terus dipercepat untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional.

"Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Menurut dia, implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial akan terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif.

Ilustrasi Rupiah. [Pixabay]

"Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi," tutup Erwin.

Load More