Bisnis / Keuangan
Kamis, 30 Juli 2026 | 08:45 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi [Suara.com/Rina A]
Baca 10 detik
  • OJK menyatakan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp74 triliun hingga 2 Juli 2026 merupakan dinamika global.
  • Investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp0,44 triliun pada periode 13 hingga 17 Juli 2026.
  • OJK dan SRO melanjutkan reformasi untuk meningkatkan transparansi, tata kelola, serta daya saing pasar modal Indonesia.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai aksi jual bersih (net sell) investor asing di pasar saham Indonesia sejak awal tahun, masih merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global.

Meski demikian, regulator melihat tekanan jual mulai mereda dan optimistis berbagai reformasi pasar modal akan meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon (PMDK) OJK, Hasan Fawzi mengatakan, hingga 2 Juli 2026 investor asing masih membukukan aksi jual bersih sekitar Rp74 triliun.

Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai fundamental pasar modal Indonesia.

"Pergerakan aliran dana asing merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti risiko geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta preferensi investor terhadap aset di emerging markets. Karena itu, arus dana asing perlu dilihat dalam konteks global dan tidak semata-mata mencerminkan fundamental pasar modal Indonesia," jelas Hasan dalam jawaban tertulis, Kamis (30/7/2026).

Menurut Hasan, perkembangan terbaru menunjukkan sentimen pasar mulai membaik. Pada periode 13 hingga 17 Juli 2026, investor asing secara agregat kembali mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp0,44 triliun, yang mencerminkan mulai meredanya tekanan jual di pasar domestik.

Ilustrasi investor asing. [Pixabay]

"OJK mencermati bahwa meskipun secara kumulatif sejak awal tahun investor asing masih membukukan net sell di pasar saham domestik, perkembangan pada periode terakhir menunjukkan kondisi pasar yang semakin stabil dengan tekanan jual asing yang mulai mereda," kata Hasan.

Ia menjelaskan, pada periode 13 hingga 17 Juli 2026, secara agregat tercatat net buy asing sebesar Rp0,44 triliun. Pada saat yang sama, investor domestik tetap memiliki peran penting dalam menjaga likuiditas dan stabilitas pasar.

Untuk memperkuat daya saing pasar modal Indonesia, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) akan melanjutkan berbagai agenda reformasi.

Baca Juga: Maraknya PHK di Emiten, Perusahaan Wajib Transparan ke Investor

Langkah tersebut meliputi peningkatan transparansi, kualitas keterbukaan informasi, penguatan tata kelola perusahaan, hingga menjaga integritas pasar.

Hasan menjelaskan, sejumlah kebijakan yang tengah disiapkan antara lain memperkuat transparansi dan kualitas data kepemilikan saham guna mendukung penentuan free float dan meningkatkan kualitas investasi di pasar modal.

Selain itu, OJK akan menyempurnakan metodologi asesmen HSC dan meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap aktivitas perdagangan serta risiko konsentrasi kepemilikan melalui analisis berbasis data.

Regulator juga akan menyempurnakan berbagai ketentuan pasar modal untuk meningkatkan likuiditas, efisiensi, dan pendalaman pasar.

Di sisi lain, OJK akan memperkuat komunikasi dengan investor institusi global maupun penyedia indeks global (global index providers) agar perkembangan reformasi pasar modal Indonesia dapat tersampaikan secara transparan dan tepat waktu.

Tidak hanya itu, OJK juga mendorong peningkatan kualitas emiten melalui penguatan tata kelola perusahaan, keterbukaan informasi, serta perlindungan investor sebagai upaya menciptakan pasar modal yang lebih kredibel dan berdaya saing.

"Ke depan, OJK bersama SRO akan terus memperkuat daya saing pasar modal melalui implementasi reformasi yang berkelanjutan. Inisiatif-inisiatif reformasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan investability pasar modal Indonesia dan semakin memperkuat kepercayaan investor, sehingga dapat menarik investasi yang semakin berkualitas dan berkelanjutan, baik dari investor domestik maupun investor global," tutup Hasan.

Load More