Bisnis / Keuangan
Kamis, 30 Juli 2026 | 19:10 WIB
Mobile Banking Bank Raya. [ist].
Baca 10 detik
  • PT Bank Raya Indonesia Tbk membukukan laba bersih Rp12,01 miliar hingga kuartal II 2026 berkat pertumbuhan bisnis digital yang kuat.
  • Penyaluran kredit digital mencapai Rp16,46 triliun dan digital saving melonjak menjadi Rp2,47 triliun yang didorong oleh peningkatan transaksi Aplikasi Raya.
  • Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia menyampaikan hal tersebut di Jakarta pada Kamis, 30 Juli 2026.

Suara.com - Emiten perbankan, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) membukukan laba bersih sebesar Rp12,01 miliar, ditopang pertumbuhan bisnis digital yang terus menguat, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana murah.

Bank Raya mencatat pertumbuhan pada bisnis kredit digital. Hingga kuartal II 2026, penyaluran kredit digital mencapai Rp16,46 triliun, meningkat 22,6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara outstanding kredit digital tumbuh 21,2 persen menjadi Rp3,17 triliun.

Dari sisi pendanaan, digital saving Bank Raya mencapai Rp2,47 triliun atau tumbuh 66,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut turut didorong meningkatnya transaksi di Aplikasi Raya yang naik 41,2 persen menjadi 3 juta transaksi.

Meningkatnya penggunaan layanan digital tersebut juga tercermin dari rasio dana murah atau current account saving account (CASA) yang naik menjadi 38,09 persen, dari sebelumnya 29,72 persen pada kuartal II 2025.

Bank Raya (Foto Istimewa)

Salah satu kontributor terbesar pertumbuhan kredit digital berasal dari produk Pinang Dana Talangan, yakni solusi pembiayaan digital yang menyasar Agen BRILink dan Agen Gadai.

Hingga kuartal II 2026, penyaluran Pinang Dana Talangan mencapai Rp14,67 triliun atau tumbuh 29,1 persen secara tahunan. Produk tersebut telah dimanfaatkan sekitar 69 ribu Agen BRILink dan Agen Gadai, sementara outstanding pembiayaannya meningkat 48,8 persen menjadi Rp1,19 triliun.

Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan transformasi digital yang dijalankan perusahaan mulai memberikan hasil positif.

"Melalui berbagai inovasi layanan dan penguatan ekosistem digital, kami terus mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat sekaligus menghadirkan pengalaman perbankan yang semakin mudah, aman, dan relevan bagi masyarakat," ujarnya di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Di tengah pertumbuhan bisnis tersebut, Bank Raya juga menjaga fundamental keuangan tetap kuat. Hal itu tercermin dari peningkatan Net Interest Margin (NIM) sebesar 104 basis poin menjadi 5,95 persen.

Baca Juga: Gegara Kereta Cepat, Laba Bersih KAI Anjlok 73,9% Jadi Rp305,3 M di Semester I-2026

Sementara rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 83,31 persen, Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 444,63 persen, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 166,46 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 100 persen.

Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Raya berada di level 40,8 persen, memberikan ruang yang cukup bagi perseroan untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Selain memperkuat bisnis inti, Bank Raya juga terus menghadirkan inovasi digital. Salah satunya melalui fitur Raya Active di Aplikasi Raya yang menghubungkan aktivitas fisik, seperti jumlah langkah kaki, jarak tempuh, dan kalori yang terbakar, dengan fitur menabung otomatis.

Fitur tersebut memungkinkan nasabah membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus disiplin menabung melalui integrasi dengan aplikasi Health Connect pada perangkat Android maupun Apple Health di iOS.

Menurut Bagus, inovasi tersebut menjadi bagian dari strategi Bank Raya dalam memperluas layanan digital yang lebih personal dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

"Ke depan, kami akan terus memperkuat inovasi produk dan layanan digital, menjaga kualitas aset, serta menghadirkan solusi keuangan yang relevan agar dapat memberikan nilai tambah bagi nasabah sekaligus menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan," pungkas Bagus.

Load More