Bisnis / Makro
Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:16 WIB
Ilustrasi industri tekstil. Foto: Pekerja memintal benang di sebuah industri kawasan Cipulir, Jakarta, Senin (30/6/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • LPEI memproyeksikan ekspor tekstil nasional tumbuh 2 hingga 4 persen sampai tahun 2027 mendatang.
  • Direktur LPEI Anton Herdianto menyatakan penguatan rantai pasok dan produk berkelanjutan menjadi kunci daya saing global.
  • LPEI menyediakan fasilitas pembiayaan dan asuransi guna mendukung revitalisasi serta peningkatan ekspor tekstil nasional.

Suara.com - Indonesia Eximbank Institute dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memperkirakan ekspor tekstil nasional tetap tumbuh solid hingga tahun 2027, seiring prospek pertumbuhan global yang membaik dari ketidakpastian global dan proyeksi penurunan suku bunga global di masa mendatang.

Lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu menyebut, ekspor tekstil nasional diperkirakan tumbuh sekitar 2 persen hingga 3,2 persen pada tahun 2026 dengan melihat realisasi pertumbuhan ekspor saat ini di level 1,3 persen.

Sementara pada tahun 2027, ekspor tekstil nasional diperkirakan tumbuh hingga 3,5 persen hingga 4,0 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap produk tekstil berkelanjutan, terutama di segmen pasar premium.  

Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI, Anton Herdianto mengatakan daya saing ekspor tekstil Indonesia saat ini ditopang oleh produk finished fabric yang porsinya mencapai sekitar 74 persen dari total ekspor TPT nasional.

Menurutnya, keberlanjutan kinerja ekspor tidak hanya ditentukan oleh produsen garmen, tetapi juga oleh kekuatan seluruh rantai pasok industri.

Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI, Anton Herdianto. [Dok LPEI Kemenkeu]

"Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia," ujar Anton dalam siaran pers, dikutip Minggu (2/8/2026).

Anton menyatakan Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menangkap peluang tersebut, terutama dari sisi biaya tenaga kerja yang kompetitif serta struktur industri yang telah terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Ia menilai, tantangannya kini adalah meningkatkan produktivitas, mempercepat modernisasi industri, dan memenuhi standar keberlanjutan yang semakin menjadi persyaratan utama di pasar ekspor.

Untuk mendukung transformasi tersebut, LPEI menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan trade finance yang disesuaikan dengan kebutuhan eksportir.

Baca Juga: Bantu Ekonomi Negara, Tapi Hilirisasi Industri Agro Masih Minim

Dukungan tersebut mencakup pembiayaan pra-pengapalan (pre-shipment) dan pasca pengapalan (post-shipment), Trade Credit Insurance (TCI) untuk melindungi risiko gagal bayar dari pembeli luar negeri, serta Marine Cargo Insurance guna memberikan perlindungan selama proses pengiriman barang.

Hal ini juga sejalan dengan arahan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa beberapa waktu lalu yang mendorong revitalisasi industri tekstil dan sepatu melalui penyediaan likuiditas yang terjangkau lewat Indonesia Eximbank atau LPEI guna memperbarui permesinan dan meningkatkan daya saing global.

"Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global," kata Anton.  

Load More