Bisnis / Makro
Senin, 03 Agustus 2026 | 14:18 WIB
Pekerja memilah biji kopi arabika yang sedang menjalani proses washed di gudang CV Kwadungan Java Coffee, kawasan Lereng Gunung Sindoro, Kledung, Temanggung, Jawa Tengah. [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hma]
Baca 10 detik
  • Badan Pusat Statistik mencatat ekspor pertanian Indonesia turun 11,36 persen secara tahunan pada Senin, 3 Agustus 2026.
  • Penurunan tersebut disebabkan oleh melemahnya nilai ekspor komoditas kopi, rempah-rempah, buah-buahan, serta cengkeh.
  • Sektor industri pengolahan dan pertambangan justru mengalami kenaikan masing-masing sebesar 9,86 persen dan 10,92 persen.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan secara tahunan turun 11,36 persen di tengah pertumbuhan ekspor nasional yang masih mencatat kenaikan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan ekspor pertanian memberikan andil 1,21 persen pada ekspor keseluruhan.

"Penurunan nilai ekspor nonmigas utamanya terjadi pada sektor pertanian. Sektor pertanian secara tahunan atau year-on-year turun sebesar 11,36 persen, dengan andil penurunannya sebesar 1,21 persen," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Ilustrasi buah-buahan (Unsplash/Julia Zolotova)

Ateng menjelaskan, melemahnya ekspor pertanian dipicu turunnya nilai ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia. Komoditas tersebut meliputi kopi, buah-buahan tahunan, tanaman obat, aromatik dan rempah-rempah, tanaman tahunan lainnya, serta cengkeh.

"Penurunan pada sektor pertanian secara tahunan ini utamanya disebabkan oleh penurunan nilai ekspor pada beberapa komoditinya. Yang pertama kopi, yang kedua buah-buahan tahunan, berikutnya tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah, juga tanaman tahunan lainnya, serta penurunan pada cengkeh," ujarnya.

Sedangkan, BPS melaporkan ekspor sektor pertambangan dan lainnya naik 10,92 persen secara tahunan, sedangkan ekspor sektor industri pengolahan meningkat 9,86 persen.

Pada Juni 2026, nilai ekspor nonmigas Indonesia mencapai 24,39 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 0,49 miliar dolar AS, sektor pertambangan dan lainnya sebesar 3,03 miliar dolar AS, sementara sektor industri pengolahan mendominasi dengan nilai ekspor mencapai 20,88 miliar dolar AS.

"Sebaliknya, untuk ekspor sektor pertambangan dan lainnya serta juga sektor industri pengolahan mengalami kenaikan secara tahunan. Masing-masing naik sebesar 10,92 persen dan juga naik sebesar 9,86 persen," tutur Ateng.

Secara keseluruhan, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 140,81 miliar dolar AS atau tumbuh 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan ekspor nonmigas, khususnya dari sektor industri pengolahan.

Baca Juga: RI Cuan dari Nikel dan Batu Bara, Ekspornya Melonjak pada Juni 2026

Load More