Bisnis / Keuangan
Senin, 03 Agustus 2026 | 14:37 WIB
Pasar valuta asing (forex) dikenal sebagai salah satu pasar keuangan paling likuid sekaligus paling bergejolak di dunia. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Trader ritel dinilai terlalu fokus pada volatilitas historis.
  • Institusi lebih mengandalkan implied volatility untuk ukur risiko.
  • Disiplin manajemen risiko jadi kunci bertahan di pasar forex.

Suara.com - Pasar valuta asing (forex) dikenal sebagai salah satu pasar keuangan paling likuid sekaligus paling bergejolak di dunia. Namun, di balik fluktuasi harga yang menjadi incaran para trader, ternyata terdapat kesenjangan cara membaca volatilitas antara trader ritel dan pelaku institusional.

Broker global Contract for Difference (CFD) Elev8 mengungkapkan bahwa sebagian besar trader ritel masih terlalu bergantung pada volatilitas historis untuk mengambil keputusan transaksi. Padahal, pelaku institusi justru lebih banyak mengandalkan volatilitas tersirat (implied volatility/IV), yang dinilai mampu memberikan gambaran lebih akurat mengenai ekspektasi pergerakan harga di masa depan.

Volatilitas sendiri merupakan ukuran seberapa cepat dan besar perubahan harga suatu aset dalam periode tertentu. Tingkat volatilitas tidak menunjukkan arah kenaikan atau penurunan harga, melainkan menggambarkan besarnya fluktuasi yang terjadi.

Volatilitas tinggi memang menawarkan peluang keuntungan yang lebih besar dalam waktu singkat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kerugian, sehingga menjadi "pedang bermata dua" bagi para trader.

Menurut Elev8, trader ritel umumnya hanya memanfaatkan indikator teknikal bawaan platform seperti Bollinger Bands (BB), Average True Range (ATR), Average Directional Index (ADX), dan Commodity Channel Index (CCI) untuk mengukur volatilitas historis.

Indikator-indikator tersebut memang membantu membaca kondisi pasar berdasarkan data masa lalu. Misalnya, Bollinger Bands dapat mengidentifikasi potensi breakout ketika pita menyempit, sementara ATR digunakan untuk mengukur pelebaran rentang pergerakan harga dan menentukan level stop loss maupun target profit yang lebih realistis.

Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup untuk mengantisipasi risiko ke depan.

Pelaku institusi lebih memilih memantau volatilitas tersirat yang berasal dari harga kontrak opsi. IV mencerminkan ekspektasi investor terhadap tingkat gejolak pasar pada masa mendatang sekaligus menjadi acuan dalam penetapan harga risiko.

Berdasarkan data Refinitiv, volatilitas tersirat EUR/USD untuk tenor tiga bulan berada di level 5,37%. Angka tersebut mengindikasikan pasar memperkirakan kondisi relatif tenang pada kuartal mendatang.

Baca Juga: BRI Tegaskan Komitmen Pemerataan Layanan Perbankan di Daerah 3T Lewat Peran Aktif Mantri

Dengan menggunakan aturan akar kuadrat waktu, level tersebut setara dengan estimasi pergerakan harian sekitar 0,34% atau sekitar 39 pip per hari pada kurs EUR/USD di kisaran 1,13800. Kondisi ini menunjukkan pasar masih bergerak dalam rentang yang relatif sempit.

Meski demikian, Elev8 juga mencatat adanya lonjakan volatilitas tersirat overnight hingga 6,93%. Kenaikan tajam ini biasanya menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengantisipasi peristiwa berdampak besar dalam waktu dekat, seperti pengumuman inflasi, keputusan suku bunga bank sentral, maupun perkembangan geopolitik.

Broker tersebut menilai informasi semacam ini sering kali luput dari perhatian trader ritel karena data volatilitas tersirat tidak tersedia secara luas pada platform gratis dan perhitungannya lebih kompleks dibandingkan indikator teknikal konvensional.

Untuk menghadapi pasar yang bergejolak, Elev8 menyarankan trader menerapkan manajemen risiko secara disiplin. Langkah yang direkomendasikan meliputi menurunkan leverage ketika volatilitas meningkat, melakukan diversifikasi posisi, menyesuaikan level stop loss dan take profit, menggunakan analisis multi-timeframe, hingga tidak memaksakan transaksi ketika kondisi pasar belum memberikan sinyal yang jelas.

Menurut Elev8, menjaga modal tetap menjadi prioritas utama dibandingkan mengejar keuntungan jangka pendek di tengah lonjakan volatilitas pasar.

Load More