- Presiden AS Donald Trump membatalkan serangan militer besar ke Iran dan mengklaim kesepakatan damai segera terwujud.
- Negosiasi damai terkait pengelolaan Selat Hormuz dan denuklirisasi Iran dilakukan secara tidak langsung melalui negara mediator.
- Pembatalan serangan militer oleh Presiden AS tersebut berdampak langsung pada penurunan harga minyak dunia secara signifikan.
Suara.com - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru yang penuh teka-teki. Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa sebuah kesepakatan damai dengan Teheran "sudah di depan mata" menyusul keputusannya untuk membatalkan serangan militer berskala masif.
Namun, benarkah diplomasi ini berjalan mulus, atau ini sekadar retorika politik di tengah krisis Selat Hormuz? Berikut adalah urai dan analisis dari dinamika terbaru konflik AS-Iran.
Dalam keterangannya kepada pers usai menghabiskan akhir pekan di New Jersey, Presiden Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi babak baru dengan Iran segera dimulai.
Trump menyebut AS sebelumnya telah menyiapkan serangan militer yang diklaim sebagai "serangan terbesar sejak Perang Dunia II" terhadap infrastruktur Iran. Namun, ia membatalkannya di menit-menit akhir dengan alasan kemanusiaan demi menghindari jatuhnya banyak korban jiwa.
Trump juga menegaskan bahwa target utama dari "kesepakatan yang segera terwujud" ini berfokus pada dua hal krusial: pembukaan kembali Selat Hormuz dan pada akhirnya, denuklirisasi Iran.
Meski terdengar optimistis, Trump menolak memberikan tenggat waktu yang pasti maupun merinci siapa saja pihak yang duduk di meja perundingan.
Siapa yang Mengendalikan Meja Negosiasi?
Di lapangan, format negosiasi tampaknya tidak berjalan secara langsung (direct talks) antara Washington dan Teheran, melainkan melalui jalur belakang yang melibatkan negara-negara mediator.
- Peran Mediator Timur Tengah: Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa perantara dari Qatar, Oman, dan Menteri Dalam Negeri Pakistan tengah bergerak cepat sebagai utusan untuk memfasilitasi dialog ini.
- Fokus Teheran pada Oman: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah bahwa Iran akan menjadi tuan rumah atau mengirim delegasi resmi ke negara lain dalam waktu dekat. Namun, ia membenarkan bahwa dialog intensif telah berlangsung dengan Oman selama 7–8 hari terakhir.
- Titik Terang Selat Hormuz: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa negosiasi dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz telah memasuki "tahap akhir". Araghchi juga secara aktif berkomunikasi dengan Menlu Arab Saudi dan Panglima Militer Pakistan untuk mencari resolusi krisis.
Selat Hormuz adalah urat nadi energi global. Sebelum konflik terbuka pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur air ini. Rentetan krisis di wilayah ini mencakup:
Baca Juga: Perundingan Damai AS dan Iran Dimulai Lagi, Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Bahasan Utama
Dilansir dari Aljazeera, Iran secara de facto menutup selat ini pada awal Maret usai AS dan Israel melancarkan serangan udara pada 28 Februari.
Sementara. Memorandum of Understanding (MoU) sempat ditandatangani pada 17 Juni untuk membuka rute, namun batal akibat perbedaan interpretasi rute yang aman. Kapal-kapal yang menggunakan rute persetujuan Oman justru diserang oleh Iran.
Pada pekan lalu, selat kembali ditutup rapat dan AS merespons dengan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Keputusan Trump membatalkan serangan militer—atas lobi dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar—langsung meredakan kepanikan pasar energi. Harga minyak dunia anjlok lebih dari $4 per barel. Minyak mentah berjangka Brent turun 4,64% ke level $83,85, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 4,74% menjadi $80,66 per barel.
Pandangan Pengamat: Sepakat Damai atau Sekadar Retorika?
Di tengah optimisme Washington, para pakar kebijakan luar negeri dan Timur Tengah memberikan pandangan yang sangat skeptis mengenai prospek perdamaian yang diklaim Trump.
- Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft menilai pola Trump yang kerap memanaskan eskalasi lalu membatalkannya di saat-saat terakhir sangat merusak tatanan diplomasi. "Kredibilitas negosiasi, kredibilitas insentif, bahkan kredibilitas ancaman AS itu sendiri kini telah terdegradasi," tegasnya, dalam laporan Aljazeera.
- Alan Eyre, pengamat dari Middle East Institute, menyatakan Iran memutuskan untuk tidak berunding langsung karena AS dianggap tidak dapat dipercaya. Ia meyakini kesepakatan nuklir atau penyelesaian isu Selat Hormuz secara menyeluruh bersama AS sangat diragukan kebenarannya.
Berita Terkait
-
Barang Impor Masih Mahal, Rupiah Terperangkap di Level Rp18.000
-
Rudal Jelajah Ukraina FP5 Flamingo Buka Peluang Serang Iran, Jarak Luncur Sampai 3000 Km
-
Teror di Selat Hormuz Berlanjut, Kapal Dagang Disambar Proyektil Misterius
-
Makin Runyam, Donald Trump Kembali Klaim Ambil Alih Hak Tarif Pelayaran Selat Hormuz
-
Belum Juga Berunding, Donald Trump Ancam Iran dengan Pemenggalan
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Benarkah Kesepakatan AS-Iran Sudah Dekat?
-
Ogah Terima Materi, Sumarsih Tagih Janji Pemerintah Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM 1998
-
Ketangkap Lagi! Tiga WN Malaysia Selundupkan Kokain Dalam Sepatu hingga Perlengkapan Mandi
-
Purbaya Semprot Moody's dan Fitch: "Offside!" Salah Ukur Ekonomi RI, Harusnya Lihat Angka 5,6%
-
7 Tips Memilih Mesin Cuci yang Tepat agar Awet dan Sesuai Kebutuhan Rumah Tangga
-
Gugatan Tarif Impor Trump Resmi Diajukan 25 Negara Bagian AS
-
4 Ide OOTD Eclectic Retro-Chic ala Momo TWICE untuk yang Suka Eksplor Gaya!
-
Mengenal 7 Jenis Umbi-umbian Lokal, Ada Kimpul yang Kaya Nutrisi dan Bisa Jadi Pengganti Nasi
-
Ramai Isu Tambang di Raja Ampat, Bahlil: Izin yang Masih Aktif Tinggal Satu
-
Soekarno Cup 2026: Dari Lapangan Usia Muda ke Liga Profesional, Ini Skema Besarnya