News / Internasional
Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:42 WIB
Kolase foto Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan). [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Trump menunda serangan militer masif ke Iran demi memberi kesempatan terakhir jalur diplomasi.

  • Teheran membantah negosiasi langsung dengan AS dan hanya berkomunikasi via Oman terkait Selat Hormuz.

  • Trump menuding pemimpin Iran bermuka dua karena meminta dialog rahasia namun membantahnya di publik.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih menunda rencana pemboman besar-besaran ke wilayah Iran demi menguji iktikad baik diplomasi pihak lawan. Langkah penundaan militer ini diambil setelah sekutu kawasan Teluk meminta Washington memberi ruang berunding.

Hanya saja dalam pernyataannya, Trump menggunakan kata-kata kasar yang bernilai intimidasi dengan bicara soal pemenggalan.

“Saya ingin memberi mereka (Iran) setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan,” kata Trump, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (4/8/2026).

Gedung Putih menegaskan dialog intensif kini terus berjalan guna mengamankan kembali pembukaan Selat Hormuz secepatnya. Trump menyebut negosiasi lanjutan terkait perlucutan senjata nuklir akan memakan waktu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah hasil pemeriksaan kesehatan terbarunya belum juga dipublikasikan kepada publik.[Istimewa]

Keputusan menahan gempuran udara berskala masif tersebut didasari pertimbangan kemanusiaan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa. Trump mengklaim operasi militer yang dibatalkan itu sejatinya bakal menjadi serangan terbesar sejak Perang Dunia II.

“Itu seharusnya terjadi tadi malam, dan itu akan berlangsung lama, dan pada dasarnya sangat sedikit yang tersisa. Tidak akan ada yang tersisa. Dan, jika saya diberi kesempatan untuk membiarkan banyak orang hidup, saya ingin memberikan kesempatan itu,” kata Trump.

Kementerian Luar Negeri Iran langsung membantah adanya saluran komunikasi langsung dengan pihak Washington. Pihak Teheran menegaskan hanya berkomunikasi dengan Oman untuk merancang jalur aman sementara bagi kapal-kapal pelayaran.

Trump merespons sikap defensif Teheran tersebut melalui unggahan tajam di media sosial miliknya. Ia menuding para pemimpin Iran bersikap sangat munafik karena memohon negosiasi secara tertutup namun mengingkarinya di publik.

Langkah bongkar pasang gertakan militer ini menambah panjang daftar ketegangan geopolitik di kawasan strategis tersebut. Trump berulang kali melontarkan ancaman perang terbuka sebelum akhirnya melunak demi diplomasi.

Baca Juga: Kabar Bagus! Harga Minyak Dunia Turun Usai AS - Iran Mau Berunding Lagi

Penundaan operasi militer ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington masih menimbang dampak ekonomi global akibat penutupan jalur logistik energi. Hambatan pelayaran di Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga minyak dunia secara drastis.

Perseteruan kedua negara terus memuncak seiring ketidakpastian keamanan pada jalur distribusi minyak internasional di Timur Tengah. Penutupan akses Selat Hormuz memicu tekanan diplomatik dari negara-negara sekutu AS di Teluk.

Pemerintah AS berulang kali menerapkan kombinasi sanksi ekonomi berat dan ancaman aksi militer langsung untuk menekan program nuklir Iran. Eskalasi ini memperlihatkan pola berulang strategi diplomasi tekanan tinggi yang diterapkan Washington.

Load More