- Morgan Stanley Capital International mengumumkan rebalancing sebelas indeks saham global pada tiga belas Agustus dua ribu dua puluh enam.
- Seluruh hasil peninjauan dan perubahan dari lembaga pemeringkat tersebut akan resmi berlaku efektif tanggal tiga puluh satu Agustus.
- Analis Mirae Asset Sekuritas menyatakan saham CPIN berpeluang turun kasta sedangkan status GOTO masih belum pasti.
Suara.com - Lembaga pemeringkat Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali mengeluarkan hasil penilaiannya atau rebalancing pada 13 Agustus 2026 mendatang.
Terdapat 11 indeks saham global yang telah dilakukan rebalancing oleh MSCI.
Adapun indeks saham itu diantaranya:
- MSCI Global Standard Indexes
- MSCI Global Small Cap Indexes
- MSCI Micro Cap Indexes
- MSCI Global Value and Growth Indexes
- MSCI Frontier Markets Indexes
- MSCI Frontier Markets Small Cap Indexes
- MSCI Frontier Emerging Markets Indexes
- MSCI US Equity Indexes
- MSCI US REIT Index
- MSCI China A Onshore Indexes
- MSCI China All Shares Indexes
Dalam indeks tersebut memuat saham-saham yang bisa direkomendasikan oleh para investor asing maupun dalam negeri untuk berinvestasi di pasar modal.
Indonesia sendiri masuk dalam kategori emerging market atau pasar negara berkembang. Selain itu, beberapa saham-saham yang listing di Indonesia juga masih masuk dalam jajaran index MSCI.
Meski diumumkan pada tanggal 13 Agustus, tapi pengumuman itu akan berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
"Seluruh perubahan hasil tinjauan tersebut akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026," tulis MSCI dalam pengumumannya, Jumat (7/8/2026).
Saham Apa yang Dicermati
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengungkapkan ada dua saham yang harus dicermati investor dalam rebalancing MSCI, yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Menurutnya, emiten unggas CPIN sangat berpeluang turun kasta dari MSCI Global Standard ke Small Cap.
"Penyebab utamanya adalah harga saham yang turun sekitar 22,5 persen, sejak review Mei sehingga kapitalisasi pasar yang disesuaikan free float (FIF-adjusted market cap) turun di bawah ambang batas indeks Standard," ujar Nafan saat dihubungi Suara.com, Jumat (7/8/2026).
Sedangkan, lanjutnya, nasib GOTO belum pasti untuk mendekam di MSCI Global Standard Indexes. Pasalnya, Nafan menilai, dari sisi likuiditas emiten transportasi online dan e-commerce itu masih layak.
"Namun harga saham yang lama bertahan di level Rp50 dan likuiditas jangka pendek (1-month ATVR) yang melemah membuat MSCI memiliki ruang untuk menggunakan diskresi terkait aspek replicability. Dengan kata lain, status GOTO masih belum pasti," pungkasnya.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.