- PTPN Group mengubah strategi bisnis komoditas karet di Jakarta pada Jumat, 7 Agustus 2026.
- Rizal H Damanik menyatakan perusahaan mengalihkan fokus dari kuantitas produksi ke pengelolaan berkelanjutan dan berbasis data.
- Transformasi ini menargetkan peningkatan produk bernilai tambah serta klasterisasi kebun karet seluas 87 ribu hektare.
Suara.com - Holding BUMN Perkebunan Nusantara, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN Group mengubah strategi bisnis komoditas karet. Perusahaan tidak lagi berfokus mengejar peningkatan volume produksi, tetapi mengedepankan pengelolaan yang berkelanjutan, peningkatan nilai tambah, serta pengambilan keputusan berbasis data dan riset.
Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero), Rizal H Damanik, mengatakan, daya saing perusahaan ke depan akan ditentukan oleh kemampuan mengelola aset biologis secara berkelanjutan, menghasilkan produk bernilai tambah, serta menerapkan keputusan operasional yang didukung hasil riset.
"Dinamika industri komoditas global menuntut kita untuk terus beradaptasi. Melalui semangat Rethinking Rubber Exploitation, kita mengubah paradigma dari sekadar mengejar kuantitas produksi harian menjadi pengelolaan biological asset yang sehat sehingga mampu memberikan produktivitas optimal, keuntungan yang berkelanjutan, serta memperkuat daya saing PTPN Group di pasar global," ujar Rizal di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Sebagai bagian dari transformasi, PTPN menerapkan prinsip "diagnosis before decision". Melalui pendekatan ini, setiap keputusan teknis, mulai dari pengaturan sistem sadap hingga penggunaan stimulan, harus didasarkan pada analisis kesehatan tanaman, kondisi kebun, serta efisiensi biaya.
Strategi tersebut diharapkan mampu menjaga kesehatan aset biologis, memperpanjang umur produktif tanaman, sekaligus meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Selain mengubah pola pengelolaan kebun, PTPN juga mulai menggeser orientasi produksi ke produk-produk karet bernilai tambah tinggi. Perusahaan menargetkan peningkatan komposisi produksi bahan baku cair premium, seperti lateks pekat dan lembaran karet berkualitas tinggi, hingga mencapai rasio ideal 70 persen.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai jual produk, memperkuat posisi PTPN di pasar internasional, sekaligus menciptakan profitabilitas yang lebih berkelanjutan.
Transformasi bisnis juga diperkuat melalui penataan dan klasterisasi lebih dari 87 ribu hektare kebun karet produktif berdasarkan karakteristik dan potensinya.
Kebun dengan produktivitas tinggi akan dijadikan acuan praktik terbaik, sementara kebun yang memasuki fase akhir produktivitas akan dioptimalkan nilai ekonominya sebelum menjalani program peremajaan.