Purbaya Beberkan Fakta-fakta di Balik Pertumbuhan Ekonomi RI 5,29% Q2 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 12:29 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat media briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (5/8/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026.
  • Pertumbuhan ekonomi nasional tersebut didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi kuat, serta belanja pemerintah yang ekspansif.
  • Perbaikan pasar kerja dan penurunan tingkat kemiskinan turut menyertai pencapaian positif pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut.

Kinerja ekspor-impor

Ekspor barang dan jasa pada triwulan II 2026 tumbuh 4,13 persen (yoy), didorong oleh kinerja ekspor barang yang meningkat 3,9 persen (yoy), terutama ekspor produk CPO, batubara, dan produk hilirisasi bernilai tambah seperti nikel, tembaga, dan aluminium.

Sementara itu, impor barang dan jasa riil tumbuh 8,82 persen (yoy) terutama didorong oleh meningkatnya impor bahan baku, konsumsi, dan barang modal untuk menopang permintaan domestik. Impor barang riil tumbuh 10,3 persen, mencerminkan terjaganya kebutuhan industri dalam negeri.

Sektor pendorong ekonomi

Dari sisi produksi, sumber pertumbuhan ekonomi relatif terdiversifikasi dengan dukungan pertumbuhan tinggi dari sektor Perdagangan, Konstruksi, serta Informasi dan Komunikasi.

Sektor Perdagangan tumbuh 6,39 persen (yoy), didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan penjualan kendaraan bermotor. Hal ini tercermin dari tingkat penjualan mobil dan sepeda motor yang tumbuh masing-masing sebesar 32,94 persen (yoy) dan 6,62 persen (yoy).

Sektor Konstruksi tumbuh 6,68 persen (yoy), didorong peningkatan realisasi belanja modal pemerintah dan keberlanjutan pembangunan infrastruktur. Selanjutnya, Sektor Informasi dan Komunikasi tumbuh 6,97 persen (yoy), sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan dan pembayaran digital, serta peningkatan kapasitas data center.

Sektor Industri Pengolahan tetap menjadi kontributor tertinggi dengan kinerja relatif stabil sebesar 4,52 persen (yoy). Kinerja Industri Pengolahan Nonmigas tumbuh 5,32 persen (yoy), ditopang oleh Industri Makanan dan Minuman, serta Industri Barang Logam dan Elektronik.

Kinerja Industri Makanan dan Minuman tumbuh 6,51 persen (yoy) seiring kuatnya konsumsi rumah tangga, meningkatnya aktivitas sektor jasa, dan kebutuhan pasokan untuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kinerja Industri Barang Logam dan Elektronik tumbuh kuat 8,04 persen (yoy), didukung peningkatan permintaan ekspor untuk produk elektronik, baterai, dan peralatan listrik. Di sisi lain, kinerja Industri Pengolahan Migas termoderasi sejalan dengan terkontraksinya kinerja sektor Pertambangan.

Sementara itu, sektor terkait mobilitas dan pariwisata, seperti Transportasi dan Pergudangan serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga mampu tumbuh tinggi.

Sektor Transportasi dan Pergudangan tumbuh sebesar 5,65 persen (yoy), seiring peningkatan mobilitas masyarakat yang didukung oleh kebijakan stimulus pada periode liburan.

Selaras dengan hal tersebut, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga tumbuh double digit sebesar 10,60 persen (yoy) didorong peningkatan aktivitas pariwisata serta kenaikan permintaan terkait program MBG.

Pelaksanaan program tersebut juga mendorong kinerja sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh positif sebesar 3,80 persen (yoy). Peningkatan permintaan domestik untuk pelaksanaan Program MBG tercermin dari kinerja subsektor Peternakan dan Perikanan yang masing-masing tumbuh sebesar 11,57 persen (yoy) dan 6,86 persen (yoy).

Ekonomi didominasi Pulau Jawa

Secara spasial, kontribusi pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh Pulau Jawa dengan pangsa 56,47%. Meski demikian, pertumbuhan tertinggi justru tercatat di Bali dan Nusa Tenggara, mencapai 6,10%, ditopang oleh sektor pertambangan.

Pulau Jawa sendiri tumbuh solid sebesar 5,65%, didukung penguatan sektor industri pengolahan dan perdagangan. Kalimantan dan Sumatra juga mencatat kinerja yang stabil, masing-masing 4,10% dan 5,06%, ditopang oleh aktivitas perdagangan dan manufaktur.

Di sisi lain, moderasi sektor pertambangan menekan pertumbuhan Maluku–Papua ke level 1,36%. Secara keseluruhan, capaian ini menegaskan bahwa seluruh wilayah tetap berada dalam tren ekspansif, meski dengan dinamika yang berbeda-beda sesuai karakteristik ekonominya masing-masing.

Tenaga kerja naik

Jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang, bertambah 522 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Sejalan dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka menurun dari 4,68 persen pada Februari 2026 menjadi 4,65 persen pada Mei 2026, menunjukkan perbaikan kondisi pasar kerja di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi.

Perbaikan kondisi pasar kerja tersebut turut mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tingkat kemiskinan pada Maret 2026 menurun menjadi 8,07 persen dari 8,25 persen pada September 2025, sehingga jumlah penduduk miskin berkurang dari 23,36 juta orang menjadi 22,93 juta orang.

"Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat penciptaan lapangan kerja, menjaga daya beli masyarakat, serta meningkatkan kualitas pertumbuhan agar manfaat pembangunan semakin inklusif dan dirasakan secara lebih merata," jelas Purbaya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com