Ekonom Bongkar Kesalahan Fatal Pemerintah, Bikin Ekonomi RI Sulit 'Saingi' Vietnam

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:40 WIB
Ilustrasi. [Dok Pelindo]
  • Ekonom INDEF Prof. Didik Junaidi Rachbini mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah yang mandek di kisaran 5 persen.
  • Kritik tersebut disampaikan pada Minggu (9/8/2026) karena pemerintah dinilai mengabaikan potensi sektor luar negeri.
  • Ia menyatakan Indonesia harus mencontoh Vietnam untuk mengubah kebijakan berorientasi luar negeri demi mencapai pertumbuhan tinggi.

Suara.com - Kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia saat ini mendapat sorotan dan kritik tajam dari berbagai kalangan, salah satunya dari ekonom senior sekaligus pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Prof. Didik Junaidi Rachbini.

Dalam analisis terbarunya, ia menilai bahwa stagnasi pertumbuhan ekonomi nasional yang mandek di kisaran 5 persen berakar dari satu kesalahan fatal, yakni pengabaian terhadap potensi sektor luar negeri.

Dalam keterangan tertulisnya yang dirilis pada Minggu (9/8/2026), Rektor Universitas Paramadina tersebut secara gamblang memaparkan bahwa seluruh upaya dan dinamika kebijakan ekonomi pemerintah selama ini terlalu berorientasi ke dalam negeri atau inward looking.

"Kelemahan, kekurangan, atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan pertumbuhan utamanya hanya satu, yakni mengabaikan sektor luar negeri. Hanya sektor dalam negeri yang dikemas dengan berbagai kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh moderat di angka sekitar 5 persen," urai Prof. Didik, dalam keterangan resminya kepada Redaksi Suara.com pada Minggu (9/8/2026).

Untuk memberikan gambaran konkret, Didik membandingkan laju perekonomian Indonesia dengan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, yakni Vietnam.

Vietnam, menurut catatan Didik, berhasil memacu mesin ekonominya hingga mencatatkan pertumbuhan tahunan mencapai angka impresif sebesar 8,3 persen. Keberhasilan Vietnam tersebut tidak lepas dari agresivitas mereka dalam menerapkan kebijakan yang berorientasi ke luar, menarik investasi asing, dan menggenjot ekspor.

"Dengan kebijakan (Indonesia) selama ini, tidak mungkin pertumbuhan ekonomi kita bisa menyamai Vietnam. Untuk menuju pertumbuhan 7-8 persen seperti Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi outward looking mutlak harus dilakukan oleh pemerintah," tegasnya.

Lebih lanjut, Didik mengingatkan bahwa jika pemerintah tetap bersikeras pada pendekatan lama yang hanya mengandalkan sumber daya alam mentah dan luasnya pasar dalam negeri, maka Indonesia harus puas dengan tingkat pertumbuhan moderat 5 persen, atau parahnya bisa berada di bawah angka tersebut.

Bagi negara sebesar Indonesia, pasar domestik memang memegang peranan krusial, tetapi pasar domestik saja dinilai tidak akan pernah cukup untuk menciptakan industrialisasi berkelas dunia.

Tanpa adanya perombakan kebijakan ekonomi yang radikal dan terstruktur ke arah ekspor, Didik memproyeksikan bahwa target-target pertumbuhan ekonomi tinggi yang kerap dijadikan janji kampanye politik akan sangat sulit—bahkan mustahil—untuk diwujudkan dalam realitas.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com