Saham GIAA Tiba-tiba Terbang Tinggi, Bertahan Sampai Kapan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:40 WIB
Kantor Penjualan Tiket Garuda Indonesia di BP BUMN.
  • Saham Garuda Indonesia Group mengalami lonjakan harga yang signifikan pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026.
  • Katalis utama penguatan tersebut adalah rencana merger dengan Pelita Air dan penantian laporan keuangan kuartal II 2026.
  • Proses merger masih dalam tahap kajian, sementara laporan keuangan belum dirilis karena proses audit sedang berlangsung.

Suara.com - Saham Garuda Indonesia Group, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) tiba-tiba menjadi perhatian para investor setelah sahamnya melesat pada perdagangan, Selasa (11/8/2026) pagi.

Bahkan, Saham GIAA sempat menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) pada perdagangan kemarin.

Berdasarkan data Stockbit, pada pukul 10.29 WIB, saham GIAA ditengger di harga Rp79 per lembar saham atau naik 8,33 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Akan tetapi, selama sepekan emiten penerbangan itu melesat 46,30 persen.

Sementara, pada waktu yang sama, saham GMFI justru merosot 8,45 persen di level Rp65 per lembar saham. Namun, selama sepekan, emiten bengkel pesawat itu melonjak 20,37 persen.

Lantas apa yang mendasari penguatan saham BUMN itu?

Ilustrasi Hanggar Garuda Maintenance Facility Aero Asia/(Dok GMFI).

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, setidaknya terdapat dua katalis utama yang menjadi perhatian pasar, yakni kelanjutan rencana merger GIAA dengan Pelita Air dan penantian laporan keuangan perseroan untuk kuartal II 2026.

Sentimen pertama berasal dari rencana merger antara Garuda Indonesia dan Pelita Air.

Manajemen GIAA menyatakan proses merger tersebut masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan bersama pemegang saham serta pihak-pihak terkait.

"Kajian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek strategis. Salah satunya adalah upaya memperkuat ekosistem penerbangan nasional sekaligus menjaga keberlanjutan agenda transformasi Garuda Indonesia," tulis BRI Danareksa dalam risetnya.

Rencana tersebut kemudian menjadi salah satu katalis yang diperhatikan investor karena berpotensi mengubah struktur dan arah bisnis perseroan ke depan.

Namun, proses merger masih dalam tahap kajian sehingga belum terdapat kepastian mengenai realisasi maupun waktu pelaksanaannya.

Katalis kedua datang dari laporan keuangan GIAA untuk kuartal II 2026 yang hingga kini masih dinantikan investor.

Garuda Indonesia belum merilis laporan keuangan periode tersebut karena proses audit masih berlangsung.

Manajemen juga mengakui industri penerbangan masih menghadapi sejumlah tekanan eksternal, terutama gejolak harga bahan bakar pesawat atau avtur serta dinamika geopolitik global.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com