Biar Naik Kelas, Prabowo Ingin Pasar Modal RI Juga Dipenuhi Startup

Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:52 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Rina]
  • Presiden Prabowo Subianto menyetujui rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia pada Minggu, 16 Agustus 2026.
  • Kebijakan tersebut bertujuan agar pasar modal Indonesia mampu bersaing dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
  • Prabowo ingin perusahaan rintisan atau startup memanfaatkan pasar modal untuk memperbesar skala serta dampak usahanya.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto menyetujui rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam demutualisasi ini, pemegang saham BEI tak hanya dimiliki oleh sekuritas dan anggota bursa saja, tetapi pihak lain.

Prabowo menilai, Demutualisasi BEI ini agar pasar modal Indonesia bisa bersaing dengan bursa saham negara lain.

"Dalam upaya membangun bursa yang kredibel, Otoritas Jasa Keuangan juga telah melakukan reformasi terbesar dalam sejarah bursa saham kita. Mereka yang melanggar aturan bursa diberi sanksi," ujarnya seperti dikutip, Minggu (16/8/2026).

Presiden Prabowo Subianto saat pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR. [Ist]

Prabowo menyebut, demutualisasi ini juga bisa membawa BEI sebagai bursa saham salah satu terbesar di Dunia.

"Demutualisasi akan membawa pasar modal Indonesia ke standar dunia dan menjadikan pasar modal Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia," bebernya.

Dalam hal ini, Prabowo menginginkan pasar modal Indonesia tidak hanya dikelilingi oleh perusahaan besar saja. Akan tetapi, perusahaan rintisan atau startup juga bisa mencari dana segar di pasar modal RI.

Saat ini beberapa startup sudah menyandang status perusahaan terbuka mulai dari GOTO hingga BUKA.

"Soal kesempatan perusahaan rintisan, startup, pengusaha-pengusaha kita bisa naik kelas, menambah ekuitas, menambah modal agar bisa memperbesar skala dan dampak usahanya," pungkasnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com