B50 Hemat Rp170 Triliun, Devisa Bisa Dipakai Bikin Indonesia Makin Maju

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:42 WIB
Presiden Prabowo Subianto didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani meninjau implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). [Antara]
  • Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia menghentikan impor solar melalui penerapan biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026.
  • Ekonom Robert Winerungan menyebut penghentian impor solar tersebut berhasil menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun.
  • Pakar energi Yayan Satyakti menilai kebijakan B50 harus didukung peningkatan produktivitas sawit rakyat serta infrastruktur memadai.

Suara.com - Kebijakan biodiesel B50 dinilai tidak hanya memperkuat ketahanan energi Indonesia, tetapi juga membuka ruang bagi pemerintah untuk mengalihkan devisa hasil penghematan impor solar ke pengembangan teknologi.

Ekonom dari Universitas Negeri Manado (Unima) Robert Winerungan menjelaskan, penghentian impor solar melalui implementasi B50 memberikan keuntungan besar bagi perekonomian nasional. Salah satunya berupa penghematan devisa hingga Rp170 triliun.

"Sebagian besar devisa kita habis untuk impor BBM dan bayar utang. Sekarang kalau BBM itu, solar tidak impor lagi, yang Rp170 triliun itu devisa hemat besar sekali. Jadi B50 ini sangat menghemat devisa. Devisa kita tidak terkuras oleh impor BBM lagi. Ada impor BBM, tapi sudah bukan solar," ujar Robert seperti dikutip, Minggu, (16/8/2026).

Kewajiban penggunaan BBM B50 berlaku mulai 1 Juli 2026. [Antara]

Menurut Robert, manfaat penghematan tersebut seharusnya tidak berhenti pada berkurangnya kebutuhan devisa untuk impor energi. Ruang fiskal dan devisa yang tercipta dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan teknologi Indonesia.

Ia menilai penguasaan teknologi akan meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi. Dengan demikian, produk-produk Indonesia dapat semakin kompetitif dibandingkan produk dari negara lain.

"Itu spektakuler. Jadi intinya peran besar untuk BBM yang tidak impor lagi itu, devisa bisa dipakai untuk alih teknologi. Akan lebih maju lagi Indonesia kita. Jadi devisa tidak terkuras dan kalau devisa itu terpakai untuk alih teknologi, itu akan membuat Indonesia kita lebih maju lagi," jelasnya.

Di sisi lain, Robert menilai meningkatnya penggunaan sawit sebagai bahan baku biodiesel juga dapat memberikan kepastian permintaan terhadap komoditas tersebut. Kondisi itu pada akhirnya dapat membantu menjaga penjualan dan stabilitas harga sawit.

Namun, manfaat B50 tetap perlu didukung dengan ekosistem yang memadai agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.

Sementara, Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai peningkatan penggunaan biodiesel perlu dibarengi dengan peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat, diversifikasi bahan baku, serta penguatan pembiayaan.

"Perbaiki pungutan dan pasang katup pengaman campuran sekarang, diversifikasi ke bahan baku limbah sembari melindungi pangan melalui Harga Eceran Tertinggi alih-alih kuota ekspor, dan mulai menaikkan produktivitas perkebunan rakyat segera, maka B50 menjadi kemenangan ketahanan energi yang benar-benar mampu ditanggung Indonesia, baik secara fiskal maupun lingkungan," kata Yayan.

Menurut Yayan, keberlanjutan B50 tidak cukup hanya dengan meningkatkan persentase campuran biodiesel. Kesiapan bahan baku, pembiayaan, dan infrastruktur juga menjadi faktor penting.

"Dengan dukungan pembiayaan, bahan baku, dan infrastruktur yang memadai, B50 berpeluang menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor," imbuh Yayan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia mulai berhasil mewujudkan swasembada energi. Salah satu indikatornya adalah kemampuan Indonesia memproduksi biodiesel B50 berbasis minyak kelapa sawit.

"Janji swasembada energi sekarang sudah mulai kita wujudkan dengan pertama kali swasembada BBM jenis solar kita berhasil produksi diesel dengan B50 dari kelapa sawit," kata Prabowo.

Prabowo mengatakan implementasi B50 membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri. Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 1 Juli 2026.

Menurutnya, penghentian impor solar tersebut juga memberikan penghematan devisa dalam jumlah besar.

"Kita berhasil hemat devisa Rp 170 triliun, sekitar 9,5 miliar Dollar Amerika, tidak lagi harus kita kirim ke luar negeri," pungkas Prabowo.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com