- Teknologi digital seperti virtual reality dan metaverse membantu arsitek merancang bangunan secara virtual sebelum tahap pembangunan fisik.
- Pemanfaatan teknologi digital dalam perancangan properti terbukti mampu mengurangi risiko biaya investasi yang tidak diperlukan.
- Ajang LIXIL Day of Architecture & Design 2026 di Jakarta membahas masa depan arsitektur melalui kolaborasi multidisiplin.
Suara.com - Investasi di sektor properti memang dikenal butuh biaya yang besar. Salah satunya, biaya pembangunan rumah maupun gedung yang sangat tinggi.
Hal ini membuat masyarakat justru berpikir dua kali untuk putuskan membeli rumah jadi atau membangun rumah sesuai keinginan sendiri.
Namun, perkembangan teknologi digital dinilai dapat membantu industri properti merancang bangunan secara lebih efisien, termasuk mengurangi risiko investasi yang tidak diperlukan sebelum sebuah rumah benar-benar dibangun.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam ajang LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD) 2026 yang digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, 12 Agustus 2026. Forum tersebut mempertemukan arsitek dan praktisi desain dari Indonesia dan mancanegara untuk membahas masa depan arsitektur.
Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia Arfindi Batubara mengatakan perkembangan arsitektur membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu agar dapat menjawab tantangan tata ruang yang semakin dinamis.
"Setiap ilmu dapat saling melengkapi dalam menjawab tantangan tata ruang yang semakin dinamis. Dialog, pemahaman serta kolaborasi merupakan kunci penting dalam membentuk arsitektur yang relevan, solutif, dan berkelanjutan," ujar Arfindi di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi menjadi bagian dari perubahan ekosistem arsitektur yang perlu diikuti dengan kolaborasi dan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat.
Sementara, Principal ZHA Patrik Schumacher mengatakan perkembangan teknologi seperti metaverse, virtual reality (VR), hingga gaming engines kini dapat memperluas kemungkinan dalam dunia properti.
Teknologi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu desain, tetapi juga dapat mengubah cara sebuah bangunan dirancang, dikembangkan, hingga digunakan.
Melalui teknologi digital, arsitek dapat mengeksplorasi dan menyesuaikan sebuah ruang secara virtual sejak tahap awal, sebelum rancangan tersebut direalisasikan dalam bentuk fisik.
Pendekatan tersebut memungkinkan rancangan diuji lebih awal sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek sebelum masuk ke tahap pembangunan.
Teknologi digital juga dinilai dapat membantu menghasilkan rancangan yang lebih sesuai kebutuhan sekaligus mengurangi investasi yang tidak diperlukan.
Selain itu, perangkat digital yang dilengkapi aturan struktural dan material dapat membantu memastikan konfigurasi rancangan tetap layak secara teknis.
Bahkan, rancangan yang dihasilkan melalui pendekatan tersebut memungkinkan untuk diproduksi secara prefabrikasi.