Laba BSI Tumbuh 11,8 Persen

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 18:07 WIB
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo (kiri) mengatakan perusahaan mencatat laba Rp4,16 triliun pada kuartal kedua 2026 dengan pertumbuhan 11,08 persen [Suara.com/Rina Anggraeni].
  • PT Bank Syariah Indonesia Tbk mencatat laba Rp4,16 triliun pada kuartal kedua 2026 dengan pertumbuhan 11,08 persen.
  • Pertumbuhan pembiayaan BSI mencapai 14,63 persen serta Dana Pihak Ketiga tumbuh 16,74 persen per Mei 2026.
  • Pendapatan berbasis komisi BSI meningkat 38,6 persen menjadi lebih dari Rp4 triliun pada semester pertama 2026.

Suara.com - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI)  membukukan laba sebesar Rp4,16 triliun atau tumbuh 11,08 persen secara tahunan (year on year/YoY) di kuartal kedua 2026.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pertumbuhan kinerja BSI tetap berada di atas pertumbuhan industri perbankan. Kinerja tersebut didukung penguatan infrastruktur dan transformasi teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.

“BSI dapat tumbuh di atas industri perbankan. Tentu saja pertumbuhan kinerja ini didukung oleh aspek infrastruktur yang terus kami kembangkan untuk mampu melayani 24,3 juta nasabah dengan semakin baik agar mereka semakin mempercayakan bisnisnya pada Bank Syariah Indonesia,” ujar Anggoro dalam paparannya secara virtual, Jumat (21/8/2026).

Dari sisi aset, per Mei 2026 BSI mencatat pertumbuhan sebesar 4,29 persen secara tahunan. Pertumbuhan pembiayaan BSI juga mencapai 14,63 persen atau tumbuh dua digit, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pembiayaan perbankan nasional sebesar 11,51 persen dan perbankan syariah sebesar 10,42 persen.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI tumbuh 16,74 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK perbankan nasional sebesar 13,49 persen dan perbankan syariah sebesar 11,75 persen.

Anggoro menilai kemampuan menghimpun dana menjadi salah satu keunggulan kompetitif BSI, terutama di tengah kondisi industri perbankan yang semakin mengetat. Salah satunya, mendorong pertumbuhan bisnis sekaligus memperbesar pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia.

“Yang perlu kami garis bawahi adalah pertumbuhan dana pihak ketiga justru tercatat paling tinggi di antara ketiga indikator tersebut di tengah industri yang memang mengetat. Kemampuan menghimpun dana menjadi keunggulan kompetitif yang sangat menentukan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menambahkan, di tengah tekanan likuiditas industri perbankan, pihaknya juga mengandalkan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income. Rinciannya, fee based income BSI tumbuh sekitar 38,6% yoy menjadi lebih dari Rp 4 triliun pada semester I-2026. Ade bilang peningkatan kontribusi pendapatan non-margin menjadi penting ketika persaingan likuiditas berpotensi menekan margin perbankan. '

“Di tengah situasi likuiditas yang ketat, persaingan likuiditas akan berdampak terhadap tertekannya margin perbankan. Kami beruntung dengan nasabah yang banyak dan produk-produk unik syariah maupun emas, BSI bisa mendapatkan sumber revenue yang non-margin,”bebernya. 

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com