- INDEF GTI mengusulkan pencapaian tahap awal PLTS 100 GWp diprioritaskan melalui kawasan industri guna memenuhi target pemerintah.
- Kawasan industri memiliki potensi energi surya hingga 21 GW yang mampu mendorong peningkatan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto.
- Pemerintah meluncurkan pembangunan 14 proyek PLTS perdana berkapasitas 5,3 GWp di enam provinsi dengan investasi miliaran dolar.
Suara.com - INDEF Green Transition Initiative (GTI) mengusulkan agar pencapaian target awal tahap pertama program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp diprioritaskan melalui kawasan industri. Langkah ini dinilai dapat memenuhi hampir separuh dari target 30 GWp yang ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.
Berdasarkan kajian INDEF GTI bersama Systemiq Indonesia, kawasan industri memiliki potensi PLTS hingga 21 GW. Potensi tersebut mencakup 6–13 GW dari pemanfaatan atap pabrik serta lahan non-komersial di dalam kawasan, dan 7–8 GW dari lahan berdekatan untuk PLTS skala utilitas yang dipadukan dengan baterai.
Direktur INDEF GTI, Imaduddin Abdullah, menyatakan bahwa porsi potensi di dalam kawasan merupakan sasaran yang paling siap untuk dikerjakan lebih dulu.
"Porsi 6-13 GW itu tergolong low hanging fruit karena bisa dikerjakan lebih dulu. Inisiasi 100 GWp melalui pentahapan yang jelas membuat target pembangunan lebih jelas, namun realisasinya tetap membutuhkan upaya luar biasa dari berbagai pemangku kebijakan," ujar Imaduddin lewat keterangannya pada Jumat (28/8/2026).
Imaduddin menambahkan, integrasi energi terbarukan di kawasan industri juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Analisis awal pada delapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menunjukkan potensi peningkatan pertumbuhan PDRB agregat dari 5,95 persen menjadi 6,30 persen.
Kendati memiliki potensi besar, penetrasi energi bersih di kawasan industri masih terhambat sejumlah kendala regulasi dan teknis. Hambatan tersebut meliputi keterbatasan Wilayah Usaha, perizinan yang berbelit, batasan kuota PLTS atap, hingga persoalan pendanaan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, INDEF GTI dan Systemiq Indonesia mengusulkan skema Kawasan Energi Terbarukan atau Renewable Energy Zones (REZ). Senior Direktur Systemiq Indonesia, Batari Saraswati menilai melalui konsep ini, proses pengadaan dan pembangunan infrastruktur energi terbarukan disederhanakan dalam satu kerangka terpadu.
Dijelaskannya bahwa skema REZ menyelaraskan jalur perizinan, paket jaringan dan lahan, hingga kerangka pembiayaan dan kepastian penyerapan daya oleh tenant industri.
"Dengan REZ, kawasan industri bisa jadi pintu masuk tercepat ke target 30 GWp tahun ini," kata Batari.
Sebelumnya, pemerintah secara resmi meluncurkan PLTS berkapasitas total 100 Gigawatt-peak (GWp). Pada tahap awal, pemerintah meresmikan groundbreaking dan pembangunan 14 proyek PLTS perdana berkapasitas 5,3 GWp yang tersebar di enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Nilai investasi tahap awal ini mencapai USD 7,7 miliar atau setara Rp 135 triliun dan diproyeksikan mampu menghemat anggaran subsidi APBN sebesar Rp4,6 triliun per tahun.
Kementerian ESDM mencatat total investasi keseluruhan untuk target 100 GWp diperkirakan mencapai USD 73 miliar, setara Rp 1.140 triliun. Program berskala nasional ini ditargetkan menyerap hingga 5,52 juta tenaga kerja serta dapat menghemat subsidi energi hingga Rp 73,9 triliun setiap tahun.