- KLH setujui metode backfilling DPM yang dinilai lebih aman dan ramah lingkungan.
- Investasi DPM-China dinilai bisa menggerakkan ekonomi dan membuka peluang usaha daerah.
- Paste backfilling jaga stabilitas tambang sekaligus manfaatkan kembali material sisa tambang.
Suara.com - Proyek tambang PT Dairi Prima Mineral (DPM) dinilai perlu segera direalisasikan setelah rencana penerapan metode backfilling mendapat persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Persetujuan tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi DPM untuk melanjutkan investasi sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional tambang.
Pengamat tambang dan energi Ferdy Hasiman mengatakan penerapan backfilling merupakan pilihan yang tepat karena mengedepankan aspek keselamatan sekaligus perlindungan lingkungan.
“Backfilling ini lebih safety, lebih lingkungan. Ini pilihan yang tepat untuk DPM. Kementerian dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tentu sudah melihat proses yang matang dari DPM,” ujar Ferdy dalam keterangannya kepada media.
Menurut Ferdy, persetujuan KLH menunjukkan rencana penerapan teknologi tersebut telah melalui kajian yang matang. Dengan demikian, DPM dinilai memiliki dasar yang lebih kuat untuk melanjutkan kegiatan investasinya.
Ia berharap proyek DPM dapat segera berjalan sehingga investasi yang telah direncanakan bisa memberikan efek berantai bagi perekonomian daerah.
“Kita berharap proyek ini sudah bisa jalan. Ini multiplier effect. Penambang besar mengikuti panduan best mining practice. Jadi kalau jalan, DPM ini akan baik,” katanya.
Ferdy menilai keberlanjutan proyek tersebut semakin penting di tengah tantangan perlambatan investasi asing di Indonesia. Terlebih, DPM telah menjalin kerja sama dengan China yang berpotensi membawa investasi dalam skala besar.
Menurutnya, masuknya investasi tidak hanya berdampak terhadap aktivitas perusahaan, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha baru, serta menggerakkan sektor ekonomi masyarakat di sekitar kawasan tambang.
Dari sisi teknis dan lingkungan, pakar LAPI ITB Dr. Irwan Iskandar mengatakan pengelolaan DPM telah mengacu pada berbagai kajian, mulai dari kebencanaan, geologi, hidrologi, geologi teknik hingga perlindungan lingkungan.
Ia menilai pengelolaan tersebut telah mempertimbangkan aspek sains, teknologi, serta perlindungan lingkungan.
Salah satu teknologi yang diterapkan adalah paste backfilling, yakni material sisa pertambangan yang dicampur dengan semen kemudian dipompa kembali ke bukaan tambang, termasuk area longhole stoping.
Metode tersebut berfungsi menjaga stabilitas ruang bawah tanah, mengendalikan rongga kosong, meminimalkan risiko amblesan, serta mencegah terbentuknya air asam tambang.
Penggunaan backfilling juga memungkinkan pengelolaan air dilakukan secara lebih terintegrasi. Karena tidak menggunakan tailing dam, potensi gangguan terhadap air permukaan dapat ditekan.
Di sisi lain, material sisa pertambangan dapat dimanfaatkan kembali untuk mengisi ruang kosong di bawah tanah. Pengisian tersebut juga membantu mengendalikan penurunan muka air tanah.
Untuk memperkuat pengawasan lingkungan, DPM akan memasang sekitar 10 sumur pantau di sekitar bukaan tambang bawah tanah.
Sumur tersebut akan digunakan untuk memantau perubahan kondisi air tanah. Data hasil pemantauan selanjutnya dapat menjadi dasar evaluasi apabila ditemukan perubahan yang signifikan.
Irwan menilai teknologi backfilling merupakan pendekatan strategis yang berpotensi diterapkan pada kegiatan pertambangan lainnya.