Perokok Tak Juga Berkurang, Dunia Mulai Cari Jalan Keluar dari Rokok

Kamis, 03 September 2026 | 07:08 WIB
Upaya mengakhiri epidemi merokok di dunia dinilai membutuhkan strategi baru. Foto ist.
  • THR didorong sebagai pelengkap strategi pengendalian tembakau.
  • Produk nikotin tanpa asap dinilai berisiko lebih rendah dari rokok.
  • Indonesia berpeluang memimpin transformasi pengendalian tembakau ASEAN.

Suara.com - Upaya mengakhiri epidemi merokok di dunia dinilai membutuhkan strategi baru. Pasalnya, berbagai kebijakan pengendalian tembakau yang selama ini diterapkan belum sepenuhnya mampu menekan jumlah perokok dewasa secara signifikan.

Prevalensi merokok pada laki-laki di berbagai negara masih berada di kisaran 15% hingga 40%. Kondisi tersebut memunculkan dorongan agar pemerintah tidak hanya berfokus mencegah munculnya perokok baru, tetapi juga mempercepat penurunan jumlah perokok dewasa yang sudah terlanjur mengonsumsi produk tembakau.

Salah satu pendekatan yang kembali menjadi sorotan adalah tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan risiko tembakau.

Dalam jurnal bertajuk "Beyond a Smoke-Free Generation: Ending Smoking Within a Generation" yang diterbitkan di The Lancet, peneliti Ruth Bonita dan Robert Beaglehole menilai pencegahan perokok baru saja tidak cukup untuk mengakhiri epidemi merokok.

Keduanya mendorong agar kebijakan pengendalian tembakau juga memberikan perhatian lebih besar terhadap percepatan peralihan perokok dewasa dari rokok yang dibakar menuju produk nikotin alternatif yang memiliki profil risiko lebih rendah.

Produk yang dimaksud antara lain rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan atau heated tobacco products (HTP), serta kantong nikotin.

“Jika tujuannya adalah mengakhiri epidemi merokok, maka kebijakan pengendalian tembakau global perlu memprioritaskan percepatan transisi dari konsumsi rokok menuju ke produk nikotin alternatif yang terbukti memiliki tingkat risiko lebih rendah,” tulis Bonita dan Beaglehole, dikutip Rabu (2/9/2026).

Bonita merupakan profesor emeritus di Universitas Auckland dan akademisi kesehatan publik. Sementara Beaglehole merupakan dokter kesehatan masyarakat dan epidemiolog yang pernah menjabat sebagai direktur di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Bonita dan Beaglehole menilai kebijakan pengendalian tembakau perlu beradaptasi dengan perkembangan bukti ilmiah dalam satu dekade terakhir.

Menurut mereka, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa produk nikotin tanpa proses pembakaran memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Produk tersebut juga dinilai berpotensi membantu sebagian perokok dewasa melakukan transisi dari rokok.

"Lanskap kebijakan telah mengalami perubahan. Produk nikotin bebas asap saat ini telah digunakan oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia," tulis keduanya.

Namun, pendekatan tersebut bukan berarti menggantikan kebijakan pengendalian tembakau yang telah berjalan.

THR justru dipandang sebagai pelengkap, terutama bagi perokok dewasa yang belum berhasil atau tidak mampu berhenti merokok melalui metode konvensional.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah kebijakan pelarangan terhadap produk alternatif.

Bonita dan Beaglehole memperingatkan, pelarangan produk yang memiliki risiko lebih rendah dibandingkan rokok berpotensi menghasilkan konsekuensi yang berlawanan dengan tujuan kesehatan masyarakat.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com