- Minyak Brent turun tipis ke US$95,52, WTI naik ke US$91,30/barel.
- Serangan AS-Iran picu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
- Sinyal damai Putin-Ukraina menahan lonjakan harga minyak.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis (3/9/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Kontrak minyak mentah berjangka Brent ditutup melemah tipis 11 sen atau 0,12% menjadi US$95,52 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 29 sen atau 0,32% ke US$91,30 per barel.
Kedua harga acuan minyak tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam enam pekan pada awal perdagangan, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, Jumat (4/9/2026), pasar minyak mendapatkan dorongan dari meningkatnya risiko gangguan pasokan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada Selasa malam. Ancaman aksi militer lanjutan dari Israel juga membuat investor semakin waspada.
Menteri Kesehatan Iran melaporkan serangan tersebut menewaskan 18 orang dan melukai 108 lainnya. Bulan Sabit Merah Iran menyebut empat korban tewas terjadi dalam sebuah pesta pernikahan di dekat Selat Hormuz. Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan tiga pilot Angkatan Darat Iran turut tewas.
Ketegangan semakin meningkat setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Washington tidak akan bernegosiasi dengan Teheran sebelum serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dihentikan.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi mengganggu distribusi energi dan mendorong lonjakan harga minyak.
Ancaman juga datang dari Israel. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa negaranya akan melumpuhkan infrastruktur militer dan energi Iran apabila Teheran kembali menyerang Israel.
"Pasar masih memantau apakah serangan AS awal pekan ini hanya insiden tunggal atau berkelanjutan," ujar Analis UBS Giovanni Staunovo.
Namun, ketegangan di Timur Tengah bukan satu-satunya faktor yang diperhitungkan pasar.
Kenaikan harga minyak tertahan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan sinyal keterbukaan terhadap kemungkinan negosiasi perdamaian dengan Ukraina.
Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa konflik Rusia-Ukraina dapat berakhir dan serangan terhadap fasilitas energi, termasuk kilang minyak, dapat berkurang.
Analis Price Futures Group Phil Flynn menilai potensi berakhirnya serangan terhadap fasilitas kilang minyak Rusia dapat membantu menormalisasi produksi sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar global.