Biaya Hidup Mahal? Data Ungkap Warga Indonesia Kewalahan Hadapi Inflasi

Sabtu, 05 September 2026 | 11:40 WIB
SEBAGAI ILUSTRASI-Suasana aktivitas jual-beli di Pasar Kombongan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • OJK dan BPS merilis hasil SNLIK 2025 yang mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia sebesar 80,51 persen.
  • PT Sun Life Indonesia meresmikan Kantor Pemasaran Mandiri Sun Billionaire di Menara Sun Life, Jakarta Selatan.
  • Pembukaan kantor pemasaran baru tersebut bertujuan memperluas layanan perencanaan keuangan di tengah tekanan inflasi masyarakat.

Suara.com - Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks inklusi keuangan di Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar 80,51 persen.

Pada periode yang sama, indeks literasi keuangan berada pada angka 66,46 persen.

Data tersebut mengindikasikan bahwa kegiatan edukasi serta pendampingan finansial masih diperlukan agar masyarakat dapat memahami dan memilih instrumen keuangan yang sesuai dengan kebutuhan.

Secara historis, data SNLIK yang dirilis OJK dan BPS mencatat dinamika persentase indeks inklusi keuangan nasional sebagai berikut:

Tahun 2013: 59,74 persen
Tahun 2016: 67,82 persen
Tahun 2019: 76,19 persen
Tahun 2022: 85,10 persen
Tahun 2024: 75,02 persen (terdapat penyesuaian metodologi berbasis cakupan luas)
Tahun 2025: 80,51 persen (metode keberlanjutan) / 92,74 persen (metode cakupan DNKI)
Tahun 2026: 93,61 persen

Sejalan dengan upaya perluasan akses terhadap solusi keuangan, PT Sun Life Indonesia meresmikan Kantor Pemasaran Mandiri (KPM) Sun Billionaire yang berlokasi di Menara Sun Life Lantai 3, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Pembukaan fasilitas ini diselenggarakan bertepatan dengan momentum Hari Pelanggan Nasional 2026 sebagai bagian dari operasional layanan perusahaan.

Fasilitas yang berada di gedung kantor pusat Sun Life Indonesia tersebut difungsikan sebagai ruang interaksi langsung antara masyarakat dan tenaga pemasar dalam melakukan perencanaan keuangan.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menyampaikan bahwa langkah perluasan fasilitas ini berkaitan dengan kondisi ketahanan finansial masyarakat.

Merujuk pada data Sun Life Asia Financial Resilience Index 2025, sebanyak 92 persen responden di Indonesia menyatakan merasakan dampak inflasi, dengan 46 persen di antaranya menyebut inflasi berdampak signifikan terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan harian.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong perlunya pendampingan perencanaan keuangan yang relevan bagi masyarakat.

"Temuan Sun Life Asia Financial Resilience Index 2025 menunjukkan bahwa 92% responden di Indonesia merasakan dampak inflasi, termasuk 46% yang menyatakan inflasi berdampak signifikan terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com