BBM Bisa Naik Tinggi Lagi, Harga Minyak Dunia Tembus USD100/Barel

Rabu, 09 September 2026 | 16:12 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels].
  • Harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel pada Rabu (9/9/2026) akibat konflik militer di Timur Tengah.
  • Eskalasi pertempuran melibatkan Amerika Serikat, Iran, kelompok Houthi, serta koalisi Arab Saudi di jalur distribusi energi vital.
  • Dampak kenaikan harga minyak memicu rekor harga bahan bakar baru serta kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.

Suara.com - Harga minyak dunia kembali menyentuh level 100 dolar AS per barel pada Rabu (9/9/2026). Kenaikan harga ini dipicu meluasnya bentrokan militer di kawasan Timur Tengah yang mengancam kelancaran pasokan energi global.

Mengutip CNN, minyak dunia jenis Brent menguat 2,3 persen hingga sempat diperdagangkan di level 100 dolar AS per barel sebelum mengalami koreksi tipis. Sementara itu, minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI), menguat 1,3 persen ke posisi USD 94 per barel.

Secara akumulatif sepanjang 2026, kedua jenis minyak mentah tersebut telah melonjak lebih dari 60 persen.

Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi distribusi minyak dunia.

Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].

Komando Sentral AS (Centcom) mengkonfirmasi telah menyerang empat kapal tanker Iran di Teluk Oman dan satu tanker di dekat Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—sebagai balasan atas serangan rudal balistik ke kapal perang AS.

Situasi makin memanas setelah kelompok Houthi yang disokong Iran melancarkan serangan ke infrastruktur minyak di Arab Saudi, yang dibalas oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. Militerisasi yang meluas hingga ke Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab memperkuat kekhawatiran pasar akan potensi stagnasi produksi dan gangguan arus distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk.

Senior Vice President Trading BOK Financial, Dennis Kissler, menilai pergerakan volume distribusi minyak dari Timur Tengah kini menjadi fokus utama para pelaku pasar karena kondisinya yang berubah sangat cepat.

"Para pelaku pasar akan tetap berfokus pada dinamika volume transportasi minyak dari Timur Tengah, mengingat volume pengiriman saat ini dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat," ujar Kissler

Lonjakan harga minyak mentah ikut memicu kenaikan harga bahan bakar turunan seperti bensin dan diesel di tingkat konsumen. Di Amerika Serikat, rata-rata harga eceran diesel menembus rekor tertinggi sebesar USD 5,90 per galon.

Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran lonjakan inflasi global. Sejumlah bank sentral diperkirakan berpotensi menahan atau bahkan menaikkan suku bunga guna meredam dampak kenaikan harga energi, yang pada akhirnya turut menekan pergerakan pasar saham global.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com