- PT INKA menghadapi krisis keuangan berat akibat ekuitas negatif, pinjaman tidak berkelanjutan, dan kerugian besar.
- Kepala BP BUMN Dony Oskaria menyebut INKA memerlukan pemulihan menyeluruh.
- Transformasi menyeluruh ini bertujuan memperkuat fondasi perusahaan agar mampu bersaing di industri perkeretaapian global.
Suara.com - PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tengah hadapi permasalahan keuangan yang serius. Pasalnya, posisi ekuitas yang negatif, unsustain loan mencapai Rp4,7 triliun, serta kerugian perusahaan yang mencapai Rp670 miliar.
Maka dari Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menilai kondisi INKA saat ini membutuhkan langkah turnaround yang serius.
Menurut Dony, perbaikan INKA membutuhkan komitmen bersama dari seluruh jajaran perusahaan dengan mengedepankan tata kelola yang kuat dan benar.
"Kita ingin melakukan turnaround. Dan turnaround itu hanya bisa dilakukan kalau kita punya komitmen yang sama ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar," ujarnya di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Transformasi INKA akan dilakukan secara menyeluruh dengan membenahi berbagai aspek fundamental perusahaan, mulai dari model bisnis, tata kelola, budaya kerja, kualitas produksi, operasional, teknik, keuangan, hingga proses bisnis.
Seluruh aspek tersebut perlu dituangkan dalam grand plan transformasi yang terintegrasi dan menjadi acuan dalam menjalankan proses perbaikan perusahaan.
Penguatan INKA juga memiliki arti strategis bagi pengembangan industri perkeretaapian nasional.
Transformasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada perbaikan kinerja perusahaan, tetapi mampu membangun INKA sebagai perusahaan manufaktur yang lebih kuat, efisien, dan memiliki daya saing di industri perkeretaapian global.
"Karena saya maunya kayak tadi kan Presiden maunya industri kereta api kita ini betul-betul maju," katanya.
Dengan fondasi keuangan yang lebih sehat, tata kelola yang kuat, serta pembenahan menyeluruh di setiap pilar bisnis, INKA diharapkan mampu bangkit menjadi perusahaan yang berdaya saing sekaligus menjadi motor penguatan industri perkeretaapian nasional.