Warga RI Makin Melek Keuangan, Tapi yang Punya Dana Pensiun Cuma 5,37%

Jum'at, 18 September 2026 | 12:57 WIB
Ilustrasi Dana Pensiun
BACA 10 DETIK
  • DBS Foundation merilis riset di Jakarta pada Jumat (18/9/2026) yang menunjukkan tingginya akses keuangan usia produktif belum diikuti persiapan pensiun.
  • Riset mencatat populasi lansia Indonesia mencapai 12 persen pada 2025 dengan 82,96 persen rumah tangga lansia bergantung pada keluarga.
  • Bank DBS Indonesia meluncurkan kampanye dan kalkulator finansial untuk membantu masyarakat memproyeksikan kebutuhan dana pensiun sejak dini.

Suara.com - Akses masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan sudah tergolong tinggi, khususnya pada kelompok usia produktif. Namun, kondisi tersebut belum sejalan dengan kesiapan masyarakat dalam menghadapi masa pensiun.

Hal ini terungkap dalam riset DBS Foundation bertajuk 'Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?'.

Riset tersebut menunjukkan, tingkat inklusi keuangan pada kelompok usia 18–50 tahun telah mencapai 93,5–95,1 persen. Sementara itu, tingkat literasi keuangan berada di kisaran 72,1–74,1 persen.

Meski akses terhadap layanan keuangan sudah tinggi, kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih sangat rendah, yakni hanya 5,37 persen. Padahal, pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun telah mencapai 27,79 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang telah memiliki akses ke layanan keuangan belum tentu memiliki persiapan finansial yang memadai untuk masa tua.

Dalam riset tersebut disebutkan, akses layanan keuangan masih didominasi oleh sektor perbankan dengan porsi 65,5 persen. Namun, kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih minim.

Kondisi ini menjadi semakin penting di tengah perubahan struktur demografi Indonesia. Populasi lansia di Indonesia telah mencapai 12 persen pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 20 persen pada 2045.

Riset DBS Foundation menilai, tingginya akses terhadap produk dan layanan keuangan perlu diikuti dengan pemahaman mengenai cara memanfaatkannya secara tepat.

Bank DBS

Pemahaman tersebut dinilai dapat meningkatkan kapasitas keuangan masyarakat dalam jangka panjang.

"Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif. Untuk itu, kami berkomitmen untuk mendukung kesiapan masyarakat rentan agar lebih tangguh secara sosial dan finansial melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan hingga persiapan pensiun. Kami ingin setiap orang dapat dapat menjalani proses menua dengan sehat, produktif, sejahtera, dan mandiri," ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Menurut riset tersebut, kesiapan menghadapi masa pensiun juga tidak bisa hanya mengandalkan kebiasaan menabung secara individu.

Diperlukan upaya yang lebih terpadu sepanjang siklus kehidupan, mulai dari peningkatan akses pendidikan, pekerjaan yang layak, kemampuan finansial, hingga perluasan cakupan program pensiun dan perlindungan sosial.

Salah satu tantangannya adalah masih terbatasnya skema dana pensiun yang menjangkau pekerja sektor informal dan wiraswasta.

Karena itu, riset tersebut menyebut perlunya skema dana pensiun yang lebih fleksibel bagi kelompok tersebut agar cakupan program pensiun semakin luas dan mendukung kemandirian masyarakat di masa mendatang.

Persoalan kesiapan pensiun menjadi semakin kompleks karena perubahan struktur keluarga Indonesia.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com