Bukan Cuma Tekan Emisi, Pasar Karbon Bisa Jadi Mesin Cuan Baru Perusahaan

Senin, 21 September 2026 | 16:25 WIB
Ilustrasi Emisi Karbon ( freepik/freepik)
BACA 10 DETIK
  • Peneliti Bonn Choi menyatakan perdagangan karbon membuka sumber pendapatan baru perusahaan.
  • Pemerintah memperluas ekonomi sirkular dan ekonomi biru pada 2026 guna memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan iklim.
  • Pemerintah menyampaikan pencanangan Kampung Nelayan Merah Putih 2026 sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir Indonesia.

Suara.com - Perusahaan kini bisa mengandalkan pasar karbon sebagai ladang cuan baru. Sehingga, Pasar karbon tidak hanya menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi pelaku usaha.

Senior Researcher Korea Research Institute on Climate Change (KRIC), Bonn Choi, mengatakan implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris (Paris Agreement) membuka peluang pengembangan mekanisme pasar karbon sebagai salah satu instrumen pengurangan emisi.

Menurut dia, investasi pada teknologi inovatif dan fasilitas rendah emisi dapat menghasilkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang memiliki nilai ekonomi melalui mekanisme pasar karbon sesuai ketentuan yang berlaku.

"Pengurangan emisi dapat memberikan dua manfaat utama, yaitu mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui transaksi perdagangan karbon," ujar Bonn di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Perdagangan Karbon atau Hutan. (Dok. Trend Asia/Melvinas Priananda)

Bonn menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan proyek pengurangan emisi di berbagai sektor.

Potensi tersebut mencakup sektor energi, efisiensi energi rumah tangga, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, hingga teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS).

Menurutnya, potensi tersebut perlu diikuti dengan percepatan pengembangan pasar karbon. Hal ini dapat dilakukan melalui identifikasi sektor prioritas, penguatan regulasi, serta integrasi berbagai sumber pengurangan emisi ke dalam Emissions Trading System (ETS).

"Dengan mengidentifikasi sektor prioritas, Indonesia dapat mengarahkan investasi karbon secara terukur pada proyek-proyek yang memiliki dampak lingkungan riil, manfaat ekonomi nyata, dan kontribusi pembangunan yang lebih besar," jelasnya.

Dengan mekanisme tersebut, upaya perusahaan mengurangi emisi tidak hanya berdampak pada pencapaian target lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru melalui transaksi perdagangan karbon.

ENSIA 2026 sendiri tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap inovasi. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan perspektif untuk mendorong penerapan inovasi dalam menjawab tantangan ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Selain pasar karbon, ENSIA 2026 turut menyoroti ketahanan rantai pasok pangan sebagai salah satu fondasi ketahanan nasional.

Asisten Deputi Logistik Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Ridky Irfan Wirautama, mengatakan sektor pertanian dan pangan menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Namun, ketahanan pangan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, dinamika ekonomi global, gejolak harga pangan, bencana alam, kesiapan infrastruktur logistik hingga penyusutan lahan produktif.

"Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi menjadi salah satu solusi kunci. Transformasi pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dialihfungsikan menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bagian dari solusi energi," kata Ridky.

Pemerintah juga terus memperluas penerapan ekonomi sirkular pangan serta memitigasi dampak fenomena iklim ekstrem.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com