Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi, Harga Minyak Dunia Mulai Turun

Rabu, 23 September 2026 | 06:01 WIB
Ilustrasi pergerakan saham di bursa Wall Street. [Pexels].
BACA 10 DETIK
  • Indeks Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi pada hari Selasa di Amerika Serikat karena dorongan sektor kecerdasan buatan.
  • Harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turun akibat membaiknya aliran pasokan minyak global.
  • Perhatian pasar keuangan kini beralih pada pertemuan penting antara Donald Trump dan Xi Jinping di Washington.

Suara.com - Indeks Nasdaq yang sarat dengan saham-saham sektor teknologi berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi pada perdagangan hari Selasa (Rabu pagi WIB). Penguatan indeks ini terjadi di tengah sesi perdagangan yang bergejolak, di mana harga minyak mentah dunia dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat mengalami penurunan seiring dengan membaiknya aliran pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.

Kinerja gemilang Nasdaq sangat ditopang oleh saham Micron Technology (MU.O) serta sejumlah perusahaan teknologi lain yang terafiliasi dengan ekosistem kecerdasan buatan (AI).

Momentum ini tercipta lantaran permintaan terhadap teknologi AI belum menunjukkan tanda-tanda mereda, berbarengan dengan ketangguhan laporan pendapatan korporasi yang tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Kepala Investasi (CIO) untuk wilayah Amerika sekaligus Kepala Ekuitas Global di UBS Chief Investment Office, Ulrike Hoffmann-Burchardi, memberikan pandangannya terkait prospek sektor teknologi yang menjadi penopang utama bursa saat ini.

"Kami mempertahankan pandangan konstruktif terhadap tren investasi AI, yang didukung oleh peningkatan adopsi dan monetisasi, serta pertumbuhan belanja modal," ungkap Ulrike Hoffmann-Burchardi.

Secara keseluruhan, Indeks Nasdaq Composite (.IXIC) membukukan kenaikan sebesar 0,45 persen. Di sisi lain, indeks S&P 500 ditutup stagnan, sementara Dow Jones Industrial Average (.DJI) mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,36 persen. Di luar bursa Amerika, indikator saham global MSCI (.MIWD00000PUS) menguat 0,11 persen, dan indeks STOXX 600 (.STOXX) Eropa naik sebesar 0,13 persen.

Menurunnya harga minyak dunia secara langsung menambah selera risiko (risk appetite) para investor di bursa saham. Penurunan harga komoditas energi ini dipicu oleh pernyataan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters, yang menyebutkan bahwa Teheran bersedia membuka kembali jalur Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari ke depan dengan syarat Amerika Serikat mengendurkan tekanan militer dan mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Harga minyak sebelumnya sempat mengalami lonjakan singkat usai Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran kemungkinan besar baru akan tercapai setelah pemilihan umum sela (midterm elections) yang dijadwalkan berlangsung pada bulan November mendatang. Garis waktu tersebut nyatanya lebih lama dari ekspektasi awal para investor yang mengharapkan resolusi cepat.

Kepala Analis Mata Uang di investingLive, Adam Button, menganalisis motif politik di balik pernyataan Presiden AS tersebut.

Lebih lanjut, harga minyak kembali merosot setelah adanya peningkatan pasokan minyak mentah Arab Saudi. Hal ini didorong oleh pengoperasian kembali fasilitas jalur pipa East-West serta mulai bergeraknya kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Selat strategis ini merupakan jalur vital yang sebelumnya menyalurkan 20 persen pasokan minyak global sebelum meletusnya perang AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Merespons perkembangan tersebut, harga minyak mentah acuan AS (WTI) tercatat turun 0,6 persen menjadi US$94,59 per barel, sedangkan minyak mentah berjangka Brent melemah 2,03 persen menjadi US$98,30 per barel.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury 10-tahun AS turun 1 basis poin menjadi 4,953 persen, bergerak mundur sejalan dengan penurunan harga minyak. Kendati demikian, angka tersebut masih tergolong tinggi karena pelaku pasar telah memproyeksikan adanya putaran baru kenaikan suku bunga acuan dari bank-bank sentral utama guna menjinakkan inflasi yang masih membandel.

Pada pasar valuta asing, nilai tukar dolar AS menguat 0,12 persen terhadap euro ke level US$1,1448, dan cenderung stabil di angka 157,37 terhadap yen Jepang. Sebelumnya, Bank Sentral Jepang (BOJ) telah menaikkan suku bunga ke level tertingginya dalam 31 tahun terakhir pada pekan lalu. Namun, adanya dua suara penolakan dari internal dewan dan ketiadaan panduan hawkish yang eksplisit membuat investor kecewa. Kondisi ini menempatkan yen pada posisi rentan dan memaksa trader waspada terhadap kemungkinan intervensi resmi dari otoritas moneter Jepang.

"Intervensi valuta asing tetap menjadi instrumen yang kurang ampuh untuk menopang mata uang, dan tanpa respons kebijakan moneter yang tegas, akan sulit bagi otoritas Jepang untuk meredam aksi jual yen," ujar Matthew Ryan, Kepala Strategi Pasar di Ebury.

Dari sisi Amerika Serikat, The Federal Reserve juga telah mengerek suku bunga pada pekan sebelumnya sembari memberikan peringatan keras bahwa perjuangan melawan inflasi belum berakhir. Peringatan ini secara otomatis membiarkan pintu terbuka lebar untuk kebijakan pengetatan moneter lanjutan di masa mendatang.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com