Harga Minyak Tembus US$100, Neraca Dagang RI Terancam Jebol

Selasa, 22 September 2026 | 17:35 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan keterangan kepada wartawan tentang ekspose hasil temuan pelanggaran takaran Minyakita di PT Artha Eka Global Asia, di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (13/5/2025). [ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/tom]
BACA 10 DETIK
  • Harga minyak US$100/barel ancam surplus neraca dagang RI.
  • Defisit migas berpotensi menggerus surplus nonmigas.
  • Pemerintah genjot ekspor untuk menahan tekanan neraca dagang.

Suara.com - Kenaikan harga minyak dunia kembali menjadi ancaman bagi neraca perdagangan Indonesia. Saat harga minyak mendekati US$100 per barel, defisit perdagangan sektor migas berpotensi semakin melebar dan menggerus surplus nonmigas yang selama ini menopang neraca dagang nasional.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pemerintah perlu mewaspadai kenaikan harga minyak dunia yang kembali terjadi setelah sempat melonjak pada April-Mei. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat defisit migas semakin menekan surplus perdagangan Indonesia secara keseluruhan.

“Memang kemarin sempat harga minyak naik lagi seperti pada bulan April-Mei, ya harapan kita, yang kita lakukan adalah bagaimana ekspor kita terus meningkat, karena jangan sampai defisit minyak ini nanti mempengaruhi surplusnya non-migas,” kata Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Budi menegaskan pemerintah harus menjaga agar defisit perdagangan migas tidak membesar. Pasalnya, surplus nonmigas harus terus diperkuat agar mampu menutup tekanan yang berasal dari sektor migas.

“Jadi yang migas jangan terlalu besar defisitnya, sehingga surplus ini bisa menutupi. Makanya ekspor kita, kita tingkatkan,” ujarnya.

Menurut dia, risiko terhadap neraca perdagangan akan semakin besar jika pertumbuhan surplus nonmigas tidak cukup signifikan untuk mengimbangi pelebaran defisit migas.

“Tapi kita tingkatkan terus, ya. Karena kalau misalnya peningkatannya, surplusnya nggak signifikan, ya takutnya nanti defisit saja,” kata Budi.

Untuk menahan tekanan tersebut, Kemendag berupaya mendorong ekspor melalui perluasan akses pasar internasional. Salah satunya dengan mengembangkan platform digital InaExport yang mempertemukan eksportir Indonesia dengan buyer dari berbagai negara melalui transaksi business to business (B2B).

Pemerintah juga mengandalkan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan digelar pada 14-18 Oktober. Pameran tersebut ditujukan untuk mempertemukan produk Indonesia dengan calon pembeli dari pasar internasional.

Budi mengatakan minat buyer terhadap TEI 2026 cukup tinggi. Hingga Selasa (22/9/2026), lebih dari 4.000 buyer telah mengonfirmasi kehadiran.

“Jadi kita tanggal 14 sampai 18 salah satu upaya, ya, Trade Expo itu. Salah satu upaya bagaimana kita bisa meningkatkan ekspor kita lebih besar lagi. Ya, dengan kondisi seperti ini, pasar semakin besar,” jelasnya.

Jumlah buyer diperkirakan masih dapat bertambah menjelang pameran. Budi mengatakan konfirmasi biasanya meningkat dalam satu hingga dua pekan sebelum acara berlangsung.

“Yang sudah konfirmasi sudah lebih dari 4.000, ya. Lebih dari 4.000 konfirmasi yang mau datang. Jadi biasanya kalau akhir September memang mendekati 4.000-5.000, nanti bisa dua kali lipat seperti tahun lalu,” pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com