KDMP Berpeluang Ekspor, Tapi Belum Jadi Prioritas

Rabu, 23 September 2026 | 09:58 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
BACA 10 DETIK
  • Mendag Budi Santoso menyatakan Koperasi Desa Merah Putih berpeluang ekspor melalui program Desa BISA Ekspor.
  • Kementerian Perdagangan mengidentifikasi 2.600 desa berpotensi ekspor dengan 747 desa sudah siap menembus pasar internasional.
  • Pemerintah mendampingi UMKM desa mengatasi tantangan pembeli luar negeri menggunakan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia.

Suara.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berpeluang juga melakukan ekspor hasil produk hasil di desa. Salah satu caranya dengan mengikuti program Desa BISA Ekspor agar komoditas hasil desa bisa dijual ke luar negeri.

Namun, program ini tak akan langsung melibatkan program pemerintah Koperasi Desa Merah Putih. Sebab, proses pembentukan kelembagaan koperasi tersebut masih berjalan.

Mendag bilang, saat ini pihkanya belum memilah desa yang memiliki potensi ekspor berdasarkan bentuk kelembagaannya. Kemendag baru memiliki pemetaan desa yang berpotensi dan siap melakukan ekspor.

"Ya, jadi kami sebenarnya belum memilah, ya. Tadi kita mengidentifikasi, kita punya dashboard-nya, mana yang di daerah mana yang siap ekspor. Memang ini kan koperasi desa sedang berjalan, ya, sedang proses," ujarnya di Kemendag, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Potret sebagian unit KDMP Tamanmartani. (Suara.com/Irwan Febri)

Mendag mengatakan program Desa BISA Ekspor tidak hanya ditujukan bagi KDMP. Menurut dia, pelaku usaha di desa yang memiliki potensi ekspor dapat berasal dari berbagai bentuk kelembagaan, mulai dari UMKM, koperasi desa, hingga BUMDes.

"Jadi, kita sebenarnya kalau Desa Ekspor, tidak entitas tertentu, ya. Jadi bisa UMKM-nya, bisa koperasi desanya, bisa BUMDes-nya, kemudian siapa saja yang memang itu kita prioritaskan yang aktivitasnya itu di desa," jelasnya.

Kemendag sebelumnya mengidentifikasi sekitar 2.600 desa yang memiliki potensi ekspor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 747 desa disebut sudah siap untuk melakukan ekspor.

Budi mengatakan pemerintah ingin kegiatan ekspor tidak hanya dilakukan pelaku usaha besar yang berada di perkotaan. Pelaku UMKM dan usaha yang berada di desa juga didorong agar mampu menjual produknya ke pasar internasional.

"Jadi kita memang bagaimana ngajarin desa ini, kita penginnya yang ekspor itu tidak hanya di kota, ya, tetapi di desa. Ekspor tidak hanya yang besar, tetapi yang kecil, UMKM juga bisa ekspor," katanya.

Menurut Budi, salah satu tantangan yang dihadapi pelaku usaha desa adalah mendapatkan buyer atau pembeli dari luar negeri. Karena itu, Kemendag memberikan pendampingan sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

"Karena kita memang mempunyai instrumen seperti perwakilan yang bisa membantu, ya. Terutama tadi bagaimana kita mencarikan buyer dari UMKM, harus kita bantu untuk masuk ke pasar luar negeri," jelas Budi.

Dia menambahkan, sejumlah koperasi dan badan usaha di desa telah melakukan ekspor. Salah satunya koperasi desa di Jember, sementara di Jembrana terdapat koperasi yang sudah berdiri sebelumnya.

"Seperti di Jembrana itu kan koperasi yang sudah existing, tapi kemarin yang di Jember itu koperasi desa," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com