Dunia Kerja yang Semakin Keras Bukan Ancaman bagi Gen Z

Sabtu, 07 November 2026 | 23:07 WIB
Head of Agency Recruitment and Productivity Manulife Indonesia di YES 2026. [Suara.com/Fika Nur Rizki]
BACA 10 DETIK
  • Gen Z menghadapi tekanan ekonomi, terutama di dunia kerja, yang semakin berat, tapi perlu melihatnya sebagai persiapan.
  • Gen Z perlu beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja agar tetap relevan.
  • World Economic Forum memprediksi kemunculan 78 juta pekerjaan baru global hingga 2030 melalui penetrasi internet dan teknologi.

Suara.com - Head of Agency Recruitment and Productivity Manulife Indonesia, Zaneti Sugiharti, mengajak generasi muda Gen Z memandang tekanan ekonomi dan perubahan dunia kerja saat ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai persiapan.

Pesan itu disampaikannya dalam sesi Youth Economic Talkshow pada forum Youth Economic Summit atau YES 2026 yang bertema “Drive the Direction”, Sabtu (7/11/2026). Ajang ini dihelat Suara.com dan CORE Indonesia.

“Buat saya ini bukan ancaman, tapi persiapan. Kalau kita enggak coba shifting, kalau kita enggak coba lakukan hal yang berbeda, kita akan tertinggal,”  kata Zaneti.

Zaneti menyoroti tiga kata kunci utama: resilience, flexibility, dan agility. Ia menyebut tiga tuntutan itu lebih dari sekadar kecerdasan.

“Ini sikap mental, emosional juga dibutuhkan di sini. Enggak cuma pintar, tapi kita bisa enggak beradaptasi,” ia mewanti-wanti.

Pekerja perlu mampu belajar dan bertumbuh ketika tuntutan pekerjaan berubah. Kemampuan-kemampuan itu, menurut Zaneti, dibutuhkan industri setidaknya hingga 2030.

Zaneti lalu mengaitkan kebutuhan beradaptasi itu dengan kondisi keuangan pekerja. Ia menyebut upah riil pekerja di Indonesia stagnan, bahkan cenderung turun pada 2018–2024 karena tingginya biaya kebutuhan.

Kalaupun upah naik, menurutnya, keinginan seperti menonton konser ikut bertambah sehingga penghasilan terasa kian menipis.

Zaneti juga menyinggung frasa populer ‘in this economy’. Menurutnya, ungkapan itu menanamkan perasaan di alam bawah sadar bahwa segalanya serba sulit, mulai dari jalan-jalan ke luar negeri, menyekolahkan adik, hingga melanjutkan S2 ke luar negeri.

“Jangan, teman-teman,” ia mengingatkan.

Justru dalam kondisi seperti sekarang, kata dia, saatnya untuk berubah.

“Kita tetap harus mampu melihat potensi diri kita dan apa yang bisa kita kembangkan. Dan jangan sampai kita berhenti untuk bermimpi dan meraih mimpi-mimpi kita,” seru Zaneti.

Tekanan berat Gen Z

Sebelumnya di acara yang sama Strategic Research Manager CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan 50 persen Gen Z kini menunda mengambil keputusan besar dalam hidup karena kondisi upah dan penghasilan yang stagnan sejak 2018 lalu.

"Satu dari dua Gen Z dan milenial saat ini terpaksa menunda keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka, seperti menikah atau membeli rumah," kata Rendy.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com