- Menteri Airlangga Hartarto menyatakan inflasi Indonesia semester I 2026 mencapai 3,19 persen di Jakarta.
- Pemerintah mengantisipasi ancaman cuaca ekstrem dan El Nino dengan mengoptimalkan irigasi serta memperluas lahan pertanian.
- Kenaikan inflasi Agustus 2026 dipicu lonjakan harga pangan bergejolak akibat dampak cuaca kering BMKG.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mewaspadai dampak El Nino, cuaca ekstrem, dan bencana alam terhadap inflasi Indonesia. Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga produksi dan pasokan pangan.
Airlangga mengatakan inflasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 3,19 persen. Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
"Ke depan inflasi perlu diantisipasi, terutama impact daripada El Nino dan cuaca ekstrem plus bencana alam," ujarnya dalam acara FEKDI dan IFSE 2026 di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut Airlangga, pemerintah akan mengantisipasi risiko tersebut melalui optimalisasi pengelolaan air irigasi, percepatan tanam, dan pengaturan pola tanam.
Pemerintah juga akan melakukan pemetaan wilayah dengan mengoptimalkan sistem peringatan dini atau early warning system.
"Dan ini optimalisasi pengelolaan air irigasi, percepatan tanam dan pengaturan pola tanam, serta pemetaan wilayah dengan optimalisasi early warning system," katanya.
Airlangga mengatakan pemerintah juga akan memperluas wilayah pertanian serta memanfaatkan lahan-lahan yang masih dapat digunakan untuk mendukung produksi pangan.
"Dan Bapak Presiden ingin menambahkan luasan daripada wilayah untuk pertanian serta pemanfaatan daripada lahan-lahan yang masih dapat digunakan," jelasnya.
Airlangga menekankan penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan untuk mengantisipasi tekanan inflasi akibat gangguan produksi pangan.
"Ya, tentu ini bisa kita dorong dengan penguatan koordinasi antara pusat dan daerah," ungkapnya.
Diketahui, inflasi pada Agustus 2026 meningkat menjadi 3,19 persen secara tahunan dari 2,88 persen pada Juli 2026. Bank Indonesia mencatat kenaikan tersebut terutama dipengaruhi inflasi kelompok volatile food yang naik menjadi 4,06 persen secara tahunan, antara lain akibat kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyatakan El Nino kategori sangat kuat masih berdampak pada Indonesia. Kondisi kering berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.