- Komisi independen Premier League memutuskan Manchester City bersalah atas 114 dari 115 tuduhan pelanggaran keuangan periode 2009 hingga 2018.
- Manchester City terancam sanksi berat berupa pengurangan poin atau pencoretan dari kompetisi akibat rekayasa laporan keuangan dan sponsor.
- Pemerintah Inggris menyatakan tidak akan melakukan intervensi terhadap independensi otoritas sepak bola meskipun terdapat isu tekanan diplomatik dari Uni Emirat Arab.
Amerika: New York City (AS), Montevideo City Torque (Uruguay), Bahia (Brasil), Club Bolivar (Mitra/Bolivia).
Asia & Australia: Melbourne City (Australia), Yokohama F. Marinos (Jepang), Shenzhen Peng City (Tiongkok), Mumbai City (India).
Selain sepak bola, Sheikh Mansour menjabat sebagai Ketua Klub Al Jazira, Ketua Otoritas Balap Emirates (ERA), serta memimpin lembaga investasi raksasa Mubadala Investment Company yang mengelola aset global senilai 330 miliar dolar AS. Di ranah pemerintahan UEA, ia memegang jabatan strategis seperti Ketua Dewan Bank Sentral UAE (CBUAE) dan Anggota Dewan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC).
Isu Diplomatik dan Sikap Resmi Pemerintah Inggris
Laporan dari The Telegraph dan Bloomberg mengungkapkan bahwa kasus sanksi finansial Manchester City turut menguji hubungan diplomatik dan ekonomi antara Uni Emirat Arab dan Inggris. Pejabat UEA dilaporkan sempat menyampaikan peringatan informal kepada pihak Inggris bahwa sanksi ekstrem terhadap Manchester City berpotensi memengaruhi komitmen kerja sama ekonomi dan investasi bilateral yang bernilai £25 miliar (sekitar Rp500 triliun).
Indikasi sensitivitas hubungan ini terlihat dari langkah Kementerian Luar Negeri Inggris (FCDO) yang menolak membuka dokumen korespondensi kedutaan di Abu Dhabi terkait kasus Man City dengan alasan menjaga hubungan bilateral kedua negara.
Meski diterpa tekanan diplomatik terselubung, Pemerintah Inggris menegaskan komitmennya untuk tidak melakukan intervensi terhadap independensi otoritas sepak bola.
"Investasi asing sangat kami sambut baik di Inggris, namun intervensi yang tidak semestinya terhadap integritas dan regulasi sepak bola Inggris tidak akan ditoleransi," tegas Menteri Kebudayaan dan Olahraga Inggris, Lisa Nandy.