- Hilirisasi nikel mengubah Kawasi menjadi kawasan ekonomi baru atau boomtown.
- Luas permukiman Kawasi lebih dari dua kali lipat pada 2016-2024.
- Pendidikan jadi kunci agar warga lokal ikut menikmati masa depan ekonomi Kawasi.
Pertumbuhan Pulau Obi beberapa tahun terakhir menarik perhatian akademisi. Agung Satriyo Nugroho dari Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta menyebut Kawasi tengah mengalami boomtown.
Boomtown adalah ledakan pertumbuhan ekonomi, permukiman, dan jumlah penduduk yang terjadi sangat cepat karena hadirnya industri besar.
"Dari kajian kami, luas kawasan terbangun dan permukiman di Kawasi naik lebih dari dua kali lipat antara 2016 sampai 2024," jelas doktor geografi lulusan UGM ini.
Aktivitas tambang dan smelter yang masif juga memicu migrasi pekerja, mengubah struktur sosial, dan menaikkan kebutuhan infrastruktur.
Perubahan itu dirasakan langsung Eymal Bahsar Demmallino, guru besar dari Universitas Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan. Dia terkejut saat kembali ke Kawasi, pada 2024 – setelah 17 tahun berlalu.
"Saya kira salah tempat. Kawasi seperti disulap," kenangnya.
Kini Kawasi Baru lebih tertata. Ada jalan memadai, rumah ibadah, gedung serbaguna, air bersih, dan pasokan listrik gratis untuk warga.
Prof. Eymal menekankan pentingnya penghijauan di tengah pesatnya pembangunan. Soal debu, ia menyebut penanganan lewat penyiraman rutin sudah dilakukan dan sesuai aturan lingkungan.
Di sisi kesehatan, kemajuan paling terasa. Kehadiran Pustu dan layanan medis lengkap, termasuk USG untuk ibu hamil dan dokter, menekan angka kesakitan warga.
"Transformasi kesehatan di Kawasi luar biasa. Kualitas hidup masyarakat benar-benar berubah," kata Eymal.
Pembangunan boleh mengubah wajah desa, tapi yang utama adalah anak-anaknya.
Sore menjelang, bus sekolah melintas mengantar mereka pulang. Di antara jalan yang bersih dan aktivitas industri, keceriaan anak-anak dengan buku di tangan jadi pemandangan paling indah.
"Menggali Mahitala" mengajarkan kita: kekayaan di perut bumi ada habisnya. Tapi ilmu tidak. Di tangan guru seperti Ibu Imer, anak-anak Pulau Obi disiapkan tumbuh kuat, mandiri, dan membanggakan kampung halamannya.