- Industri Obi ikut menggerakkan ekonomi warga lewat rantai pasok lokal.
- Lebih dari 70 supplier lokal memasok kebutuhan kawasan industri.
- Transaksi supplier lokal Pulau Obi mencapai Rp150 miliar pada 2024.
Suara.com - Aktivitas industri pertambangan di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, mulai mengubah wajah ekonomi masyarakat Desa Kawasi. Perubahan tak hanya terlihat dari aktivitas produksi, tetapi juga dari tumbuhnya layanan kesehatan dan usaha warga yang masuk ke rantai pasok kawasan industri.
Salah satu perubahan yang dirasakan warga terjadi di sektor kesehatan. Puskesmas Pembantu (Pustu) Kawasi kini didukung 10 tenaga kesehatan yang terdiri dari satu dokter, tiga bidan, lima perawat, dan seorang apoteker.
Dokter Fitri Istikasari mengatakan dirinya mulai bertugas di Kawasi sejak Juli 2025. Di bawah penanganannya, layanan kesehatan di Pustu Kawasi diperluas, mulai dari pemeriksaan umum, USG, pemeriksaan gula darah, kolesterol dan asam urat, hingga dukungan oksigen serta layanan farmasi.
"Awal 2026 kami targetkan ada alat EKG," kata Fitri.
Keterbatasan geografis Pulau Obi juga coba diatasi melalui sistem tanggap darurat dan rujukan pasien. Tim kesehatan menyiapkan logistik serta armada speedboat untuk membawa pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut ke rumah sakit rujukan.
Guru Besar Universitas Hasanuddin Eymal Bahsar Demmallino menilai sektor kesehatan menjadi salah satu perubahan paling terlihat di Kawasi jika dibandingkan dengan kondisi wilayah tersebut pada periode 2007-2024.
"Yang paling menonjol menurut saya adalah kesehatan. Penanganan kesehatan itu luar biasa dan sangat berhasil mengubah wajah Kawasi. Layanan kesehatan di sini boleh dikata sudah berhasil," ujarnya.
Perubahan juga mulai terasa di sektor ekonomi masyarakat.
Salah satu pelaku usaha lokal, Dalfa Jouronga, kini menjadi pemasok bahan pangan untuk kebutuhan katering ribuan pekerja di kawasan industri pertambangan Kawasi.
Dalfa menjalankan usaha di bawah bendera UD Anang. Ia memulai bisnis tersebut sejak 2023 dengan memanfaatkan izin usaha milik kerabatnya. Dari usaha sederhana tersebut, bisnisnya berkembang menjadi pemasok berbagai kebutuhan pangan.
Setiap hari, Dalfa bersama tiga pekerjanya menyortir sayuran dan buah-buahan untuk memastikan komoditas yang dikirim memenuhi standar kualitas.
Pasokan tidak hanya berasal dari Kawasi. Ia juga menampung hasil pertanian dari Desa Soligi serta komoditas yang dikirim dari Manado dan Ternate. Dalam satu kali pengiriman, UD Anang dapat menyerap sekitar 100 kilogram sawi hijau dari petani.
"Tawaran pertama datang ke Bapak. Tapi mengurus administrasi dan pasokan bukan hal mudah untuk Bapak. Saya lalu meminta izin, 'Biar Dalfa yang pegang, Pak. Bapak bantu modalnya saja'," ujar Dalfa.
Perkembangan tersebut mencerminkan mulai terbentuknya rantai pasok lokal di sekitar kawasan industri.
Saat ini tercatat lebih dari 70 pemasok lokal aktif memasok berbagai kebutuhan komoditas harian untuk kawasan industri di Pulau Obi. Menurut Dalfa, nilai transaksi yang berputar melalui supplier lokal mencapai sekitar Rp150 miliar sepanjang 2024.
Aktivitas ekonomi itu terlihat dari pergerakan komoditas setiap hari. Truk membawa bahan pangan dari gudang dan usaha warga menuju katering, kantin hingga foodcourt perusahaan yang melayani ribuan pekerja.
Pelaku usaha lokal juga mendapat pendampingan untuk meningkatkan kemampuan administrasi, kualitas produk dan standar pasokan agar dapat memenuhi persyaratan industri.
Dengan demikian, keberadaan kawasan industri di Pulau Obi tidak hanya menciptakan aktivitas produksi berskala besar. Di tingkat masyarakat, muncul peluang usaha baru melalui rantai pasok pangan, sementara layanan dasar seperti kesehatan ikut berkembang.