- PTK catat 5.021 kunjungan kapal dalam distribusi biodiesel.
- Logistik laut jadi kunci pasokan biodiesel di negara kepulauan.
- PTK dorong kolaborasi untuk memperkuat ekosistem biodiesel nasional.
Suara.com - Distribusi biodiesel di Indonesia tak hanya bergantung pada ketersediaan bahan bakar nabati. Sebagai negara kepulauan, kelancaran pasokan juga sangat ditentukan oleh kesiapan logistik laut yang menghubungkan kapal, terminal, depot hingga titik penerima di berbagai daerah.
Direktur Pemasaran PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), Albertus mengatakan ketika produk sudah tersedia, pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana memastikan produk tersebut dapat sampai ke wilayah yang membutuhkannya, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia.
"Di sinilah logistik maritim menjadi sangat penting," ujar Albertus dalam acara 6th Palm Biodiesel Conference 2026.
Menurut dia, distribusi energi membutuhkan konektivitas maritim yang luas. Dalam ekosistem Integrated Marine Logistics Pertamina Group, PTK menjalankan berbagai aktivitas untuk menghubungkan kapal dengan terminal.
Aktivitas tersebut antara lain pilotage, bantuan tugboat, mooring and unmooring, hingga koordinasi dengan fasilitas pelabuhan. Seluruh proses itu ditujukan untuk menjaga distribusi berjalan aman, efisien, dan konsisten.
PTK sendiri telah terlibat dalam aspek maritim distribusi biodiesel sejak implementasi awal program B2.5 pada 2008. Perannya kemudian berkembang pada 2019 melalui pengelolaan FAME Floating Storage dan Ship-to-Ship (STS) Operation di Balikpapan.
Pengoperasian tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan distribusi biodiesel dan persiapan menuju implementasi B30.
Pada periode 2019 hingga 2026 year-to-date, operasi tersebut mencatat sekitar 1.192 kunjungan kapal pemasok dan 3.829 kunjungan kapal pengangkut.
Dalam skema itu, PTK menangani pengelolaan Floating Storage dan operasi STS yang mencakup koordinasi maritim, bantuan tugboat, penempatan kapal, mooring, transfer kargo, monitoring hingga aspek health, safety, security and environment (HSSE).
Albertus mengatakan distribusi biodiesel tidak bisa ditangani oleh satu perusahaan saja. Rantai pasok tersebut membutuhkan keterlibatan produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
"Kami memahami bahwa tidak ada satu perusahaan yang dapat mengelola seluruh ekosistem biodiesel sendirian. Dibutuhkan kerja sama antara produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator, dan berbagai stakeholder lainnya," jelasnya.
Dalam acara yang sama, PMSol hadir bersama PTK Group melalui booth dan berinteraksi dengan berbagai pelaku industri biodiesel. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi di tengah perkembangan ekosistem biodiesel nasional.
PTK juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan anggota Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan stakeholder lainnya untuk memahami kebutuhan industri serta mencari solusi maritim yang sesuai.
"Tujuan akhirnya adalah memastikan biodiesel Indonesia dapat terus bergerak dengan aman, andal, dan berkelanjutan," pungkas Albertus.