Kenapa Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu? Ini Cerita dari Pasar

Selasa, 29 September 2026 | 12:44 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan rata-rata nasional harga cabai rawit merah telah mencapai sekitar Rp70.000/kg. Menurut dia, cuaca panas menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan harga. Desain Suara.com/AI.
BACA 10 DETIK
  • Cabai rawit merah di Pasar Cipinang Pulo tembus Rp100 ribu/kg.
  • Warga pangkas belanja, pedagang mengurangi stok karena modal naik.
  • Cuaca dan pasokan seret jadi pemicu, harga berpotensi Rp120 ribu.

Suara.com - Harga cabai rawit merah mulai membuat uang belanja rumah tangga di sekitar Pasar Tradisional Cipinang Pulo semakin tertekan. Harganya kini mencapai sekitar Rp100.000 per kilogram, naik sekitar Rp20.000 hanya dalam sepekan.

Kenaikan tersebut bukan sekadar soal harga satu komoditas. Di tingkat pedagang, mahalnya cabai membuat modal belanja membengkak. Di sisi konsumen, jumlah pembelian dipangkas agar uang dapur tetap cukup sampai akhir pekan.

Dewi Kanah, pedagang yang sudah 14 tahun berjualan di Pasar Tradisional Cipinang Pulo, mengatakan harga cabai rawit merah sebelumnya masih berada di kisaran Rp80.000/kg. Namun, dalam tiga hari terakhir harganya kembali melonjak hingga sekitar Rp100.000/kg.

"Rawit merah sekarang lagi Rp100.000-an," kata Dewi saat ditemui Suara.com pada Selasa (29/9/2026).

Harga tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan jenis cabai lainnya. Cabai merah keriting dijual sekitar Rp60.000/kg, sedangkan cabai hijau keriting sekitar Rp50.000/kg.

Pedagang Pilih Kurangi Stok

Dewi tidak memiliki banyak ruang untuk menahan kenaikan harga. Ia berbelanja ke agen setiap hari untuk memenuhi kebutuhan lapaknya yang buka sejak pukul 05.00 hingga 12.00 WIB.

Artinya, ketika harga di tingkat agen naik, kenaikan tersebut langsung masuk ke dalam modal dagangannya.

Masalahnya, harga jual yang tinggi juga membuat konsumen semakin berhati-hati. Dewi akhirnya memilih mengurangi jumlah barang yang dibeli daripada mengambil risiko stok tidak habis.

"Paling stok dagangan saja yang dikurangi," ujarnya.

Cabai sebenarnya tetap menjadi kebutuhan sehari-hari. Namun, menurut Dewi, penjualan sudah tidak seramai sebelumnya dan omzet ikut menyusut.

"Kalau masalah harga pasti ngeluh. Semuanya pada ngeluh," katanya.

Tekanan juga tidak hanya terjadi pada cabai. Dewi mencatat sejumlah sayuran lain ikut naik, antara lain buncis, kacang panjang, labu siam, wortel, dan daun bawang. Labu siam, misalnya, kini dijual sekitar Rp3.000-Rp4.000 per buah.

Konsumen Ubah Cara Belanja

Kenaikan harga kemudian memaksa konsumen mengubah pola belanja.

Melly, warga yang tinggal tidak jauh dari pasar, mengatakan cabai menjadi salah satu bahan pangan yang paling terasa kenaikannya. Jika sebelumnya ia membeli setengah kilogram cabai, kini jumlah tersebut dipangkas menjadi seperempat kilogram.

"Ya jelas berkurang," ujarnya.

Bukan hanya jumlah yang dikurangi, jenis cabai pun disiasati. Melly mengurangi pembelian cabai merah besar dan memilih cabai kecil yang lebih pedas. Tujuannya sederhana: rasa pedas tetap ada, tetapi jumlah cabai yang digunakan lebih sedikit.

Penghematan juga merembet ke bahan pangan lain. Pembelian telur yang biasanya satu kilogram dipangkas menjadi setengah kilogram. Kentang yang sebelumnya satu kilogram juga dikurangi.

Frekuensi berbelanja pun berubah. Melly yang sebelumnya berbelanja setiap hari kini memilih datang ke pasar setiap dua hingga tiga hari.

"Untuk menghemat juga," katanya.

Bagi warga sekitar, informasi harga bahkan menjadi bagian dari strategi mengatur uang belanja. Sebelum pergi ke pasar, mereka kerap bertanya kepada tetangga yang baru pulang untuk mengetahui komoditas mana yang sedang mahal.

Uang Rp200 Ribu Seminggu Makin Pas-pasan

Tekanan harga pangan pada akhirnya tidak berhenti di pasar. Dampaknya masuk ke pengaturan keuangan keluarga.

Lukman, warga sekitar pasar, mengatakan sejumlah keluarga mengandalkan uang belanja mingguan, misalnya Rp200.000 untuk memenuhi kebutuhan selama sepekan.

Ketika harga bahan pangan naik, nominal tersebut menjadi semakin sulit untuk mencukupi seluruh kebutuhan.

"Banyak yang pengin dibeli, tetapi duitnya kurang," ujarnya.

Kondisi itu membuat keluarga harus menentukan prioritas. Ada bahan pangan yang jumlahnya dikurangi, tetapi kebutuhan makan tetap harus berjalan.

Menurut Lukman, beban tersebut paling terasa dalam pengaturan belanja rumah tangga. Ketika uang yang tersedia tidak bertambah sementara harga kebutuhan naik, keluarga harus mencari cara lain agar dapur tetap mengepul.

Sebagian kepala keluarga bahkan mencari tambahan penghasilan. Ada yang menjadi pengemudi ojek online setelah pekerjaan utama selesai, sementara lainnya mengambil pekerjaan sebagai buruh bangunan ketika ada kesempatan.

"Pokoknya bagaimana berusaha," kata Lukman.

Namun, pekerjaan tambahan juga tidak selalu tersedia. Upah pun menurut dia kerap ditekan. Tukang yang biasanya memperoleh Rp200.000 per hari, misalnya, bisa ditawar menjadi Rp150.000.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga pangan menciptakan tekanan dari dua sisi: pengeluaran meningkat, sementara pendapatan belum tentu ikut bertambah.

Mengapa Cabai Bisa Semahal Itu?

Dari sisi pasokan, pedagang dan warga menduga faktor cuaca menjadi salah satu pemicunya. Mereka menyebut musim panas dan belum masuknya panen membuat pasokan cabai menjadi lebih terbatas.

Dugaan tersebut sejalan dengan penjelasan pemerintah.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan rata-rata nasional harga cabai rawit merah telah mencapai sekitar Rp70.000/kg. Menurut dia, cuaca panas menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga cabai rawit.

"Kalau kita lihat harga rata-rata nasional kan Rp70.000. Kami sudah komunikasi memang karena musim panas ini," kata Budi di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Pemerintah, kata Budi, berupaya menjaga pasokan dengan mendorong distribusi cabai dari daerah yang mengalami surplus produksi ke wilayah yang mengalami defisit.

Strateginya adalah memindahkan pasokan dari daerah yang cabainya berlebih ke daerah yang kekurangan, sehingga lonjakan harga di daerah defisit bisa ditekan.

Namun, persoalan produksi tetap menjadi kunci.

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid memperingatkan harga cabai rawit merah bisa menembus Rp120.000/kg apabila produksi dari dataran rendah tidak mencukupi dan produksi dalam beberapa bulan ke depan mengalami kegagalan.

"Kalau sananya nggak ada. Gagal semua ya bisa-bisa sampai Rp100.000-Rp120.000/kg," ujarnya.

Reporter: Fika Nur Rizki

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com