- Belanja warteg Rasmi melonjak dari Rp300 ribu menjadi Rp600-700 ribu per hari.
- Harga jual tetap, kenaikan bahan pangan terpaksa ditanggung dari keuntungan.
- Minyak goreng Rp22 ribu, jauh di atas harga sebelumnya Rp15-16 ribu.
Suara.com - Kenaikan harga bahan pangan mulai menggerus napas pedagang warung makan khususnya Warung Tegal alias Warteg. Uang belanja harian yang sebelumnya cukup Rp300.000, kini bisa membengkak hingga Rp600.000-Rp700.000.
Kondisi itu dirasakan Rasmi, pedagang Warteg Kabul, Setu, Cipayung. Ia mengaku harus merogoh modal hampir dua kali lipat untuk mendapatkan bahan masakan yang sama, sementara omzet hariannya tidak ikut naik.
"Dulu belanja Rp300.000 sudah dapat banyak. Sekarang Rp300.000 sampai Rp500.000 enggak cukup. Bisa sampai Rp600.000-Rp700.000," ujar Rasmi saat ditemui Suara.com pada Selasa (29/9/2026).
Kenaikan harga terutama terasa pada sejumlah bahan masakan seperti cabai, jengkol, kacang panjang, buncis, wortel, kol, dan pare. Harga ayam juga disebut ikut naik.
Lonjakan biaya tersebut membuat ruang keuntungan Rasmi semakin terjepit. Ia tetap mempertahankan harga jual karena tidak tega membebani pelanggan yang sebagian besar merupakan pekerja dengan penghasilan pas-pasan.
"Orang jualan begini, kok belanja saja sampai enam ratus, tujuh ratus. Bingung, nanti buat berasnya dari mana," katanya.
Rasmi mengatakan dirinya tidak menaikkan harga makanan maupun mengurangi porsi. Akibatnya, kenaikan biaya bahan pangan harus ditanggung dari uang yang seharusnya menjadi pendapatannya.
"Kayak begini, bagaimana saya mau menaikkan? Tidak bisa. Belanja biasa, porsinya juga biasa, jadi hitung-hitungannya, kok uangnya tidak kebagian buat saya. Habis buat beli sayur," tuturnya.
Saat ini, harga makanan di warungnya masih bertahan. Nasi dijual Rp6.000, sayur Rp2.000-Rp3.000, sedangkan minuman Rp2.000. Sambal juga tetap diberikan gratis kepada pelanggan.
Menurut Rasmi, pelanggan warungnya antara lain pengemudi ojek daring, pelajar, hingga pekerja bangunan. Ia khawatir kenaikan harga justru membuat mereka semakin terbebani.
"Orang-orangnya juga kuli, sama seperti kita," ujarnya.
Tekanan bukan hanya berasal dari sayuran. Rasmi juga mengeluhkan harga minyak goreng yang masih bertengger di sekitar Rp22.000. Padahal sebelumnya ia biasa membeli minyak dengan harga Rp15.000-Rp16.000.
"Kan semua masakan pakai minyak. Saya bilang, kapan turunnya minyak itu? Dulu mendingan, cuma lima belas, enam belas," katanya.
Sementara itu, harga gas elpiji menurutnya masih relatif normal, sekitar Rp20.000. Ia juga mengeluhkan harga plastik yang masih mahal.
Rasmi mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab berbagai bahan masakan mengalami kenaikan harga. Namun, dampaknya langsung terasa pada uang belanja yang harus disiapkan setiap hari.