- Nilai tukar rupiah menguat 47 poin ke level Rp17.934 per dolar AS pada Rabu, 30 September 2026.
- Penguatan rupiah dipicu oleh penurunan harga minyak dunia akibat pulihnya sebagian pasokan pipa minyak Saudi.
- Analis menilai penguatan tersebut terbatas karena investor masih waspada terhadap rilis data ekonomi penting.
Suara.com - Nilai tukar rupiah berbalik menguat pada awal perdagangan, Rabu, 30 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg, dibuka ke level Rp17.934 per dolar AS, menguat 47 poin atau naik 0,26 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman mengatakan penguatan ini dikarenakan menurunnya harga minyak dunia.
"Rupiah diperkirakan berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh menurunnya harga minyak dunia setelah pulihnya sebagian pasokan dari pipa minyak Saudi," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, dia menilai penguatan akan terbatas mengingat dolar AS dan imbal hasil yang masih relatif tinggi. Apalagi, investor masih waspada mengenai rilis data ekonomi pada bulan Oktober.
"Investor juga umumnya masih waspada mengantisipasi rilis data-data ekonomi penting beberapa hari kedepan. Range rupiah akan bergerak di level Rp17.900 -Rp18.050," jelasnya.
Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,32 persen. Selanjutnya, ringgit Malaysia dan dolar Taiwan yang sama-sama melesat 0,12 persen.
Disusul, baht Thailand menanjak 0,07 persen. Berikutnya ada yuan China terapresiasi 0,04 persen dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.
Kemudian, dolar Singapura bergerak tipis pada pagi ini. Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,45 persen. Diikuti, peso Filipina yang turun 0,08 persen terhadap the greenback.