Rupiah Melemah, Pedagang Tempe Ikut Menjerit

Rabu, 30 September 2026 | 18:22 WIB
Kenaikan harga kedelai impor mulai membuat para pelaku usaha tempe rumahan menjerit, kondisi tak lepas dari terus melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Foto Esther Nadya-Suara.com
BACA 10 DETIK
  • Harga kedelai naik Rp2.000/kg, pengrajin tak berani naikkan harga.
  • Kenaikan biaya terpaksa ditutup dari margin usaha.
  • Jika kedelai naik lagi, ukuran tempe bisa diperkecil.

Suara.com - Kenaikan harga kedelai impor mulai membuat para pelaku usaha tempe rumahan menjerit, kondisi tak lepas dari terus melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Namun, pengrajin tempe di Jakarta Timur tidak punya banyak ruang untuk menaikkan harga jual karena khawatir ditinggalkan pelanggan.

Hamdan, pemilik usaha tempe rumahan di Jakarta Timur, mengatakan harga kedelai yang digunakannya kini mencapai sekitar Rp600 ribu per karung berisi 50 kilogram atau Rp12.000 per kilogram.

Padahal, pada akhir tahun lalu harga kedelai masih berada di kisaran Rp9.000-Rp10.000 per kilogram.

"Memang ngikutin dolar. Karena ada perang ini kan, jadi ikutin dolar. Kalau naik, kita ikut naik," kata Hamdan saat ditemui, Rabu (30/9/2026).

Menurut Hamdan, kedelai yang digunakan pengrajin di wilayahnya merupakan produk impor dari Amerika Serikat. Dua merek yang banyak beredar antara lain Bola dan Hiu.

Kenaikan harga bahan baku terjadi ketika rupiah masih berada di level yang tertekan. Rupiah ditutup di Rp17.981 per dolar AS pada Selasa (29/9/2026).

Meski biaya produksi meningkat, Hamdan mengatakan menaikkan harga tempe bukan pilihan. Konsumen dinilai akan langsung memprotes jika harga dinaikkan.

"Kalau harga naik, pada teriak. Ini kan home industry, kalau kita naikin, nggak laku," ujarnya.

Karena itu, jika harga kedelai kembali naik, ia lebih memilih mengurangi ukuran tempe daripada menaikkan harga jual.

Tekanan biaya tersebut membuat pengusaha harus mengatur ulang pengeluaran. Selain kedelai sekitar Rp1,2 juta, biaya produksi juga mencakup plastik sekitar Rp50 ribu dan daun Rp100 ribu, belum termasuk ragi serta biaya lainnya.

Hamdan mengaku masih memperoleh keuntungan sekitar Rp200 ribu per hari. Namun, keuntungan tersebut dapat turun menjadi sekitar Rp170 ribu ketika penjualan sedang sepi.

Ia juga tidak memilih kedelai yang lebih murah. Menurutnya, terdapat kedelai dengan harga sekitar Rp500 ribu-Rp550 ribu per karung, tetapi kualitas hasil fermentasinya kurang sesuai untuk produknya.

"Ada harga, ada rupa," katanya.

Reporter: Esther Nadya

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com