- BI kurangi jual dolar spot demi menjaga cadangan devisa.
- Rupiah tembus Rp18.000 saat kebutuhan dolar meningkat.
- BI andalkan DNDF, NDF, ekspor dan investasi.
Suara.com - Rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, Bank Indonesia (BI) kini tidak lagi menjadikan aksi jual dolar secara langsung di pasar spot sebagai senjata utama.
Ada alasan di balik perubahan strategi tersebut. Menahan rupiah dengan terus menjual dolar berarti mengorbankan cadangan devisa, itu merupakan biaya yang sangat mahal.
Kenapa rupiah ditekan?
Tekanan rupiah datang ketika dolar AS menguat secara global, harga minyak dunia menembus US$100 per barel, serta kebutuhan valuta asing (valas) domestik meningkat menjelang akhir kuartal III 2026.
Ketika permintaan dolar meningkat sementara pasokannya terbatas, harga dolar dalam rupiah ikut naik. Akibatnya, rupiah melemah.
BI sebenarnya bisa meredam kondisi tersebut dengan menjual dolar AS di pasar spot. Tambahan pasokan dolar dapat memenuhi kebutuhan pasar sekaligus meningkatkan permintaan terhadap rupiah.
Masalahnya, dolar yang dijual berasal dari cadangan devisa.
Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,5 miliar. Posisi ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Artinya, semakin agresif BI menjual dolar, semakin banyak bantalan devisa yang terpakai.
Jadi, BI memilih apa?
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan porsi intervensi melalui pasar spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi.
"Intervensi yang mahal itu adalah melalui spot. Melalui spot sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30 persen dari total intervensi yang kami lakukan." kata Destry.
Sebagai gantinya, BI memperbesar penggunaan instrumen derivatif seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
Bedanya, instrumen tersebut memungkinkan BI melakukan stabilisasi nilai tukar tanpa harus selalu mengeluarkan dolar secara fisik seperti transaksi spot.
Strategi ini juga diperkuat dengan insentif biaya lindung nilai atau hedging. Menurut Destry, kebijakan tersebut telah mendorong sekitar US$6 miliar dana masuk melalui swap dan DNDF dalam sekitar satu bulan.
Tapi, apakah rupiah otomatis aman? Belum tentu.
BI sendiri mengakui tekanan rupiah bukan sekadar persoalan kurangnya pasokan dolar. Ada persoalan fundamental dan struktural di sektor eksternal yang perlu diperbaiki.
Karena itu, BI mendorong peningkatan ekspor dan investasi untuk memperkuat pasokan devisa dalam jangka lebih panjang.
Hingga 21 September 2026, investasi portofolio asing pada kuartal III masih mencatat net inflow US$400 juta, terutama berasal dari penerbitan global bond pemerintah dan aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN).
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman menilai pengurangan porsi intervensi spot memang dapat menghemat cadangan devisa. Namun, menurut dia, efektivitasnya tetap bergantung pada kemampuan instrumen derivatif memenuhi kebutuhan dolar di pasar.
"Risikonya muncul ketika kebutuhan dolar tunai meningkat, sementara instrumen derivatif tidak sepenuhnya mampu menggantikannya," ungkap Rizal.
Rizal menilai porsi intervensi spot perlu tetap fleksibel mengikuti kondisi pasar. Sebab, kebutuhan dolar tunai tidak selalu dapat digantikan sepenuhnya oleh instrumen derivatif.