Rupiah Makin Tertekan, Sudah Melemah 7,74% Sepanjang 2026

Rabu, 30 September 2026 | 19:08 WIB
Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G Hutapea (paling Kanan). [Suara.com/Rina Anggraeni].
BACA 10 DETIK
  • Bank Indonesia mencatat rupiah terdepresiasi 7,74 persen hingga 29 September 2026 dibandingkan akhir tahun 2025.
  • Erwin G Hutapea menyatakan volatilitas rupiah masih lebih baik daripada mata uang negara Asia lainnya.
  • Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar guna memberikan kepastian bagi seluruh pelaku ekonomi.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah alami depresiasi sebesar 7,74 persen secara year to date hingga 29 September 2026 dibandingkan posisi pada akhir 2025. 

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah hingga saat ini merupakan bagian dari dinamika dalam menjaga keseimbangan perekonomian.

"Tentu, ini dalam konteks bagaimana kita mencoba menyeimbangkan kondisi defisit pembayaran dengan kondisi defisit transaksi berjalan," ujar Erwin di Gedung BI, Rabu (30/9/2026).

Erwin mengatakan volatilitas rupiah masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah mata uang negara lain di kawasan. Menurut dia, anjloknya rupiah lebih rendah dibandingkan mata uang negara Asia lainnya.

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (29/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Rincianny,  won Korea Selatan sudah anjlok 15,6 persen, peso Filipina sebesar 8,7 persen, dan ringgit Malaysia sebesar 8,59 persen.

"Kalau dari sisi volatilitas, kita sebenarnya relatif lebih baik dibandingkan negara lain. Volatilitas kita 7,30 persen. Sebagai perbandingan, Korea 15,6 persen, Filipina 8,7 persen, dan Malaysia 8,59 persen," imbuhnya.

Untuk menjaga keseimbangan tersebut, BI terus melakukan koordinasi dengan otoritas terkait, termasuk kementerian dan lembaga, guna memperbaiki kondisi struktural perekonomian.

Selain itu, BI juga berupaya mendorong aliran masuk modal asing melalui capital account sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing di pasar.

"Bank Indonesia juga mencoba menyeimbangkan kondisi tersebut dengan mendorong aliran masuk modal asing di capital account. Ini dilakukan agar keseimbangan antara supply dan demand valuta asing tetap terjaga melalui berbagai kebijakan yang kita lakukan," kata Erwin.

Erwin menekankan, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi bagian dari komitmen BI. Stabilitas tersebut diperlukan untuk memberikan kepastian kepada pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan.

"Upaya kita untuk menjaga stabilitas nilai rupiah terus menjadi bagian dari komitmen Bank Indonesia. Kita ingin memastikan stabilitas tetap terjaga sehingga memberikan kepastian kepada seluruh pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan-keputusan ekonominya," tegasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com