- Kementerian Perindustrian mengumumkan Indeks Kepercayaan Industri September 2026 berada di level 51,93 dan tetap berada dalam zona ekspansi.
- Perlambatan indeks disebabkan oleh peningkatan biaya logistik, disrupsi distribusi akibat cuaca, serta sikap kehati-hatian pelaku industri terhadap kebijakan pemerintah.
- Sebanyak 67,4 persen pelaku usaha menyatakan sikap optimistis dalam menatap prospek bisnis untuk enam bulan ke depan di Jakarta.
Suara.com - Kinerja sektor industri pengolahan nasional masih menunjukkan daya tahan yang baik, meskipun dihadapkan pada sejumlah tekanan struktural. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan September 2026 tercatat berada di level 51,93.
Angka ini menandakan bahwa sektor industri masih berada kokoh di zona ekspansi (di atas level 50), kendati mengalami perlambatan tipis sebesar 0,37 poin dibandingkan capaian bulan Agustus 2026 yang bertengger di level 52,30.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif, memaparkan bahwa moderasi laju indeks ini utamanya dipicu oleh akumulasi beban biaya logistik yang meningkat, disrupsi jalur distribusi di beberapa daerah, serta sikap kehati-hatian (wait and see) pelaku industri sembari menantikan kepastian sejumlah kebijakan pemerintah.
"Industri pengolahan pada bulan September 2026 masih ekspansi dengan indeks sebesar 51,93. Nilai indeks ini sedikit melambat sebesar 0,37 poin dibandingkan dengan bulan Agustus 2026 yang sebesar 52,30," ungkap Febri dalam konferensi pers perilisan IKI di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Jika ditarik perbandingan secara tahunan (year-on-year) dengan September 2025, IKI bulan ini juga mengalami kontraksi sebesar 1,09 poin dari sebelumnya 53,02.
Dari total 23 subsektor industri pengolahan yang menjadi objek analisis Kemenperin, sebanyak 15 subsektor terpantau masih melaju di fase ekspansi, sementara delapan subsektor lainnya tertahan di zona kontraksi.
Mayoritas subsektor yang mengalami ekspansi tersebut memiliki peranan yang sangat fundamental, dengan menyumbang kontribusi sebesar 84,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026.
Berdasarkan pembelahan variabel IKI, terjadi sebuah anomali di mana tingkat permintaan sebenarnya masih menunjukkan pergerakan positif.
Nilai IKI untuk variabel pesanan baru (new orders) naik 0,27 poin ke level 53,40. Ironisnya, aktivitas produksi justru mengalami pengereman sebesar 1,32 poin menjadi 53,78. Sementara itu, variabel persediaan produk (inventory) turun 0,57 poin dan masih terperangkap dalam fase kontraksi di level 45,45.
Febri mengurai bahwa akar penyebab melambatnya aktivitas produksi di tengah tingginya permintaan adalah pembengkakan beban logistik, yang secara khusus menekan industri berorientasi ekspor akibat lonjakan harga bahan bakar untuk pengapalan internasional.
"Penyebabnya di antaranya meningkatnya biaya logistik, terutama pada industri yang berorientasi ekspor. Hal ini disebabkan karena kenaikan harga BBM pengiriman logistik, sehingga industri cenderung untuk menahan pengiriman barang ekspornya ke luar negeri, meski permintaan ekspornya masih tinggi dan produksi ekspornya juga masih ekspansif," papar Febri.
Hambatan logistik serupa turut memukul jalur distribusi pasar domestik. Kenaikan harga solar nonsubsidi yang menjadi urat nadi transportasi kapal antar-pulau memaksa sebagian industri untuk membatasi volume pengiriman produknya ke berbagai daerah.
Lebih jauh, disrupsi pasokan juga diperparah oleh fenomena iklim El Nino, yang mengakibatkan penyusutan debit air di sejumlah jalur sungai strategis, sehingga melumpuhkan lalu lintas angkutan tongkang dan kapal.
Di samping masalah logistik, ketidakpastian regulasi membuat pelaku industri bersikap wait and see. "Kita tahu bahwa ada berbagai kebijakan yang ditunggu oleh industri, terkait kebijakan dan insentif di beberapa sektor, sehingga industri masih menahan sebagian produknya di gudang meski permintaan domestik masih tetap tinggi dan industri juga sedikit mengurangi produksinya karena masih banyak stok barang di gudang," tuturnya.
Jika dibedah berdasarkan target pemasaran, IKI untuk kelompok perusahaan yang berorientasi ekspor pada September 2026 masih tangguh di level 52,60 (fase ekspansi), meski terkoreksi 0,49 poin dari bulan sebelumnya. Di sisi lain, indeks perusahaan dengan orientasi pasar domestik berada di level 50,94, melambat tipis 0,19 poin dari posisi Agustus.
Meskipun pencapaian bulan September diwarnai oleh perlambatan gerak, proyeksi ke depan justru menampakkan sinyal positif. Menariknya, optimisme pelaku industri dalam menatap prospek bisnis untuk enam bulan ke depan justru mengalami penguatan.
Survei Kemenperin mencatat bahwa sebanyak 67,4 persen pelaku usaha menyatakan sikap optimistis, yang merepresentasikan kenaikan sebesar 0,8 persen dibandingkan tingkat keyakinan pada bulan sebelumnya.